BAB 2: Want Kill Jhoni
Di
tempat pemakaman terlihat perempuan yang wajahnya penuh dengan airmata di
matanya.
“Ayah, Ibu, Kak Yani,
Bang Eri, Rani, dan Adek Danny kalian bisa hidup tenangkah di alam sana. Aku
akan membalaskan dendam kalian. Kenapa harus aku yang hidup. Hidup sendiri itu
menyakitkan, ayah. Ibu, apa yang harus aku lakukan. Aku sudah bertekad untuk membunuh
mereka yang sudah membunuh kalian. Ayah, aku sudah mengetahui yang membunuh
kalian. Kemarin aku sudah membunuh salah satu dari mereka. Bang An, yang telah
membunuh ayah sudah ku balaskan. Kalian tidurlah yang tenang, aku akan membuat
kalian gembira saat bertemu di alam sana.” Ucap perempuan itu dengan penuh
airmata dan senyum bahagia.
“Jhoni. Kau yang
selanjutnya.” Wajah perempuan itu sangat menakutkan.
Oh iya perempuan itu bernama Riana.
Perempuan itu sering di panggil Ria, hanya beberapa orang yang memanggilnya
Ana. Riana sudah menghidupi dirinya sendiri sejak 3 tahun terakhir. Ia
ditinggal pergi oleh keluarganya. Ia melihat keluarganya terbunuh, setiap malam
ia menangis jika ia teringat kejadian itu.
3 tahun yang lalu
sebelum kejadian itu.
“Ibu, aku berangkat
dulu yah.” Ucap Riana.
Ibunya hanya mengangguk, sewaktu
riana pamit dari rumahnya. Di dalam rumahnya terlihat sosok ayahnya yang
menatap anaknya penuh kasih sayang. Ayahnya tak banyak bicara, dan juga ayahnya
tak begitu suka bergaul dengan sekelompok manusia. Senyum di pipi ayahnya masih
teringat jelas di bayang-bayang gelap Riana.
Saat dirinya berjalan kearah sekolah,
ia melihat sesosok abangnya. Abang Eri adalah kakak tertua di keluarganya.
Sepertinya abang Eri sedang berdebat dengan salah satu temannya. Ia melihat
teman abang Eri memukulnya.
Sekolah telah usai, Riana mendengar
suara perdebatan keluarganya. Ayahnya yang jarang marah terlihat murka terhadap
anak pertamanya. Suara pertengkaran mereka mulai rendah saat Rani dan Riana memasuki
rumahnya. Rani terlihat bingung dengan situasi ini. Di ruangan itu, terdapat
Ibunya, ayahnya, Bang Eri, dan Kak Yani. Ayahnya menyuruh Kak Yani untuk
menemani Rani dan Riana masuk ke kamar mereka. Tak terduga, dan tak disangka
mereka mendengar suara pintu di gedor dengan sangat keras. Kak Yani yang
mendengar itu, menyuruh Rani dan Riana bersembunyi sementara waktu dan setelah
itu Kak Yani pergi ke ruang tamu. Bang Eri membukakan pintu. Saat ia membuka
pintunya, Rani dan Riana mengenal salah satu suara tamu rumah itu. Mereka
mendengar perdebatan yang sangat hebat, mereka terus berdebat hingga salah satu
tamu menodongkan pistol itu ke Bang Eri. Tamu itu menanyakan sesuatu yang
berhubungan dengan uang dan Bang Eri tidak menjawab pertanyaan itu, hingga ayahnya
berbicara kepada Tamu itu.
“Apa yang kalian
maksud?” ayahnya bertanya, sayangnya ia tidak mendapatkan jawaban yang tak
pernah ia dengar karena saat itu, bunyi pistol bersamaan dengan pertanyaan
ayahnya.
Ayahnya tertembak tepat di dahinya,
setelah insiden penembakan itu suasana sudah mulai kacau. Kak Yani pergi ke
kamar yang terdapat Rani dan Riana yang sedang bersembunyi. Sayangnya ia
ketahuan oleh seseorang. Saat Kak Yani memasuki ruangan itu, saat itulah hari
terakhir Kak Yani bersama Riana. Seorang pria membuntutinya hingga masuk ke
kamar, ia bertengkar dengan hebat oleh pria itu. Pria itu memaksa Kak Yani
menuju tempat tidur, Riana melihat Kak Yani di perkosa oleh seorang pria
bertopeng spiderman. Riana melihatnya dengan menahan suara tangisannya. Seorang
Pria bertopeng gorilla datang ke kamar itu, ia mendengar suara aneh dari kolong
tempat tidur. Saat ia lihat, Rani sedang bersembunyi di sana. Pria Gorilla itu
menarik paksa Rani keluar, ia paksa untuk melakukan sama halnya dengan Kak
Yani, tetapi Rani menolaknya. “Door.” Suara tembakan. Rani yang tertembak di
kepalanya itu tergeletak di kasur yang penuh darah. Kak Yani yang melihat itu
teriak histeris dengan menyebut nama Rani berulang kali, karena kesal Pria
Spiderman itu menembak kepala Kak Yani untuk diam. Mereka menikmati apa yang
mereka sedang lakukan itu di depat mata Riana. Riana yang tak kuat menahan
suara tangisannya hampir saja pecah saat ibunya berteriak. “Ya Allah, Eri.”
Suara tangisan ibunya semakin kencang saat ia melihat kondisi Danny anak
terakhirnya mati karena di pukul sampai mati oleh 4 pria itu. Ibunya meminta
untuk segera mencabut nyawanya kepada seorang tamu yang telah megorok leher
Bang Eri. Tamu itu menuruti permintaannya. Ia ambil sebuah pisau dapur dan
menusuknya sebanyak 5x di bagian perut, 2x di bagian dada, 1x di Jantung dan 2x
di paru-paru.
15 menit kemudian, Riana keluar dari
tempat persembunyian. Ia melihat Kak Yani dan Rani terkapar lemas dan tak
bernyawa tanpa sehelai pakaian. Ia berjalan keluar dan menuju keruang tamu,
lantainya penuh dengan darah keluarganya. Tak ada satupun yang tersisa dari
mereka yang tadi di ruang tamu. Ayahnya yang tak bernyawa karena tertembak
pistol dan Ibunya yang tak bernyawa karena kehabisan darah, sedangkan Bang Eri
tak bernyawa karena kehabisan darah dan Dan adiknya yang tak bernyawa karena di
hakimi oleh pembunuh yang membunuh keluarganya. Ia menelepon polisi, dan
meminta bantuan tetangga untuk membantunya.
7 hari kemudian, Riana menjadi
tersangka pembantaian satu keluarga. Riana di kirim ke rumah pusat rehabilitas
karena ia di bawah umur dan tak bisa masuk kedalam penjara. Saat itu, detective
yang menangani kasus itu ialah seorang inspektur yang sekarang di angkat
menjadi pemimpin kantor detective pusat.
Hari demi hari ia jalani dengan hidup
yang putus asa. Hingga suatu saat ia menemukan petunjuk untuk balas dendam, ia
belajar cara mengunakan computer atau ilmu computer dan berbagai hal saat di
rehabilitas.
Hari Jumat, suasana malam hari
terlihat segar di mata Riana. Karena ia sudah mengetahui nama 1 orang yang
ingin ia balaskan dendamnya Raju Jhoniansyah setelah ia membalaskan dendam kepada Andy Andrian. Ia tidur dengan nyenyak hingga membuat
tidurnya tersenyum manis.
Pagi Hari, Riana terlihat bersemangat
menghadapi harinya. Entah apa yang membuatnya bahagia atau mungkin karena ia
akan memangsa seseorang yang membuatnya bersemangat. Riana mengambil sebuah
handphone yang dipunyai oleh Andy. Ia membuat Sms kepada Raju, sms yang
seolah-olah itu memang Andy.
Siang Hari. Tempat Mobil Rongsokan.
Riana bersembunyi di tempat yang paling gelap, hingga suara mobil Mercendenz
Benz berwarna putih datang dan masuk kedalam pabrik itu. Riana segera menutup
gerbang mobil rongsokan dan di kunci rapat. Riana menghampiri Jhoni dengan
jalan santai. Awalnya Jhoni tak mengenal siapa Riana. Jhoni menghampiri dan
menggodanya. Wajah Riana yang tadinya sangat cantik dan manis sekali berubah
sekali dengan wajah sehari-harinya. Mata yang penuh dengan dendam, senyum iblis
yang membuat mangsa takut untuk mendekat, dan expresi yang membuat seseorang
pingsan dan seorang bayi yang tadinya menangis menjadi diam. Wajah Jhoni
terlihat ketakutan, ia masih belum menyadari apa yang akan di perbuat Riana
kepadanya. Riana mengeluarkan sebuah pistol dan menembak kaki jhoni tepat di
lutut kanannya. Tak menyangka bahwa ia akan tertembak oleh Riana, jatuh karena
ia tak kuat menahan lututnya dan wajahnya pun mulai ketakutan sangat takut.
“Halo, Pria Tampan.”
Senyum Riana yang bagaikan hawa nafsu membunuh sang iblis.
“Siapa, kamu?” tanya
Jhoni dengan ketakutan dan menahan luka yang berada di lutut kanannya.
“Siapa, Aku, hahahaha
lucu sekali kau.” tawa Riana yang bagaikan malaikat iblis itu menghampiri
telinga Jhoni. “Kau masih tidak mengingatku bagaimana kalau aku segera mengingatkanmu.”
Ucapnya dengan senyum yang membuat wajah Jhoni ketakutan.
“Apa maksudmu?” Ucap
Jhoni yang berusaha menjauh dari Riana yang semakin menggila.
“Ehm, Maksudku ialah
memainkan sebuah permainan. Bagaimana dengan ini, pertama kali aku ingin sekali
memotong lidahmu yang begitu indah.” Sahut Riana sambil berjalan mendekat
kearah jhoni yang semakin menghindar.
“Ku Mohon, aku tak
mengerti apa maksudmu?” ucap Jhoni yang semakin menjauh dari Riana.
“Baiklah terpaksa aku
membantu mengingatkanmu dengan apa yang kalian perbuat?” sahut Riana sambil
berjalan mendekat dengan sebuah senyuman Malaikat pencabut Nyawa. “Apa kau
sudah tak pernah menyesal dengan apa yang kau perbuat kepada kami.” Sambung
Riana dengan wajah polosnya.
“Kau, adiknya Eri.
Aku menyesal dengan yang ku perbuat. Aku mohon jangan membunuhku.” Ucap Jhoni
memohon dengan wajah ketakutan.
“Kamu memang makin
tampan, wahai pria yang sudah menodai banyak perempuan.” Riana semakin mendekat
dan Jhoni semakin terpojok hingga tidak bisa mundur atau menghindari Riana
lagi. “Apa Keluargaku memohon dengan wajah seperti ini dan keluargaku meminta
untuk tidak dibunuh, apa yang kau sadari.” Matanya penuh dengan balas dendam.
“saat itu, aku belum
menyadarinya. Ku mohon beri aku kesempatan kedua.”wajah Jhoni semakin pucat.
“Baiklah kesempatan
kedua.”
Wajah Jhoni sudah
mulai tenang, “Door tembakan kedua di bagian lutut kanannya”.
“Apa yang sedang kau
lakukan.” wajah Jhoni menjadi ketakutan, ia menahan sakit dan tangisan.
“Kau Gila.” kesal
Jhoni.
“aku. Gila. Bukannya
karena kamu yang telah membunuh keluargaku.” wajah Riana semakin marah. Ia
dekatkan bibirnya ke telinga kanan Jhoni dan Menaruh pistol yang sudah ia
tembak ke lutut kanannya lagi.
“Lebih baik kita
bermain saja, oke. Kita tentukan dengan itu.” Bisik Riana. “Door tembakan
ketiga di lutut kanannya.
Jhoni berteriak dengan kencang dan
histeris hingga lidahnya keluar dari dalam mulutnya. Melihat itu Riana memegang
lidahnya dan menembakan peluru ke lidahnya dan menebus hingga masuk kedalam
perutnya. Riana menjauh dari Jhoni yang sudah lemas akibat perbuatannya.
Mulutnya yang penuh darah menggambarkan bagaimana rasa kesakitan dirinya. Riana
kemudian mendekat dan membawa Tang Potong. Ia membuka paksa mulutnya yang sudah
tertutup rapat dan dibungkus oleh darah. “Door Tembakan Keempat di lutut
Kanannya.” Saat itu mulut yang tertutup rapat terbuka karena kesakitan akan
tembakan berulang kali. Riana memegang pipinya dan menekan dengan kencang
hingga Jhoni sudah tak kuat untuk menangis. Tang Potong yang berada di tangan
Kanannya mulai mencabut satu persatu gigi Jhoni secara paksa, setiap satu gigi
Jhoni berteriak hingga ke gigi yang terakhirnya.
“Baiklah, aku sudah
puas dengan ini. Bagaimana kita mulai saja permainannya.”
Riana yang sedang menyiapkan permainannya
tetap memaksa Jhoni untuk tetap membuka matanya dan mengajak ia berbicara
mengapa ia menyiksa dirinya. Persiapan selesai, Riana segera membawa Jhoni ke
dalam Kursi Eksekusi. Di situlah mimpi buruk para detective.
Saat itu ia menyamar menjadi seorang
laki-laki dengan menggunakan topeng dan berjalan layaknya laki-laki.
“Ehm, Ehm, Halo Para Detektive
sekalian. Saya akan menampilkan suatu pertunjukkan yang sangat indah untuk
kalian saksikan. Baiklah,
saya
akan mulai pertunjukkan yang indah ini. Tunggu dulu, mungkin saya akan menjelaskan sedikit tentang
laki-laki ini. Dia bernama Raju Jhoniansyah, biasa dipanggil JHONI. Oh iya, bukannya saya sudah
menunjukkan suatu yang hebat kemarin. Sepertinya kalian belum melihat isinya, padahal saya sudah
memberikan langsung ke INSPEKTUR YUNA YUDISTIRA. Sepertinya hal kemarin hanya
dianggap bercanda saja. Satu lagi, laki-laki yang ada di foto itu bernama Andy Andrian biasa dipanggil An.
Baiklah saya mulai pertunjukkannya, silakan para detektive menikmati pertunjukkan yang akan saya tampilkan.” suara Riana yang disamarkan.
Riana mendekat dengan membawa
gergaji mesin ditangannya. Jhoni bergerak
memberontak seperti tidak mau dibunuh. Kursi itu menahan setiap gerak Jhoni. Mulutnya tidak sanggup berbicara karena ia sudah
tidak mampu berbicara. Jhoni pasrah akan
nasib nyawanya. Riana berjalan dengan diiringi orkestra, Riana mulai memotong jari tangan Jhoni. Riana tersenyum dan tertawa
saat ia berhasil memotong salah satu jari di tangan kirinya. Riana semakin menikmati apa yang ia lakukan, dengan tertawa dan tersenyum yang hampir dipenuhi
darah korban di sekitar tangan dan wajahnya. Baginya hal itu adalah hal yang
menyenangkan. Dengan santainya ia memotong semua jari yang ada di
tangan kiri dan tangan kanannya. Lalu, ia bergerak mendekati telinga Jhoni. Ia berbisik ke telinga Jhoni dan mengatakan.
“Permainan baru akan dimulai, Honey.” Setelah selesai ia menjauh dari Jhoni dan mengambil pistol revolver smith & Wesson
Model 10. Ia mengeluarkan isi semua peluru dari kamar peluru. Lalu, ia memasukkan 2 peluru
ke dalam kamar peluru. Kemudian, ia putar kamar peluru itu.
“Halo, para penonton
sekalian. Apakah tadi pertunjukkan yang sangat hebat untuk ditunjukkan. Saya
akan bertaruh, kalian tadi
melihat saya memasukkan 2 peluru kedalam 2 dari 6 kamar peluru. Kita akan
bermain game, taruhannya
adalah nyawa. Saya akan menembak peluru kepada diri saya sendiri dan saya akan
menembakkan peluru kepada dirinya. Itu adalah hal yang adil bukan para penonton
sekalian. Jika seperti ini akan menjadi hal yang sangat luar biasa. Siapakah
yang akan tertembak duluan,
saya
adalah sang pembunuh berantai dan Jhoni sang korban akan selamat, atau kebalikan dari hal
tersebut. Silakan kita mulai permainan ini. Aduh, saya lupa mengatakannya dia sudah 4 kali saya tembak ditempat yang sama, kalian bisa melihatnya
kan.
Baiklah, tanpa basa-basi
saya akan mulai. Pertama,
saya
akan meletakkan pistolnya ke kepala saya sendiri.” Ucap Riana
Riana mulai menghitung dengan hitungan mundur. “5 ,4 ,3
,2 ,1”. Riana Segera menarik
pelatuk dari pistol revolver. “Treng”
“Wow, saya sangat beruntung hari ini.”ucap Riana dengan tawa yang sangat mengerikan.
“Oke, saya akan mulai.” Riana menempelkan
pistolnya keleher Jhoni. Dengan
senyuman dan tawa, ia menarik
pelatuk itu. “Door”. Pistol itu menembakkan isinya tepat kearah leher Jhoni.
“Wow, 1 dari 2 peluru sudah keluar, anda sangat kurang beruntung Jhoni. Baiklah kita mulai ronde kedua.” Ucap Riana dengan Nada gembira
Seperti sebelumnya, Riana menempelkan pistol yang sudah ia tembak kearah
kepalanya. Tanpa basa-basi,
ia
menarik pelatuknya dengan senyum yang sangat lebar, senyumannya sekilas
terlihat manis. “Treng”
“Lagi-lagi saya sangat beruntung. Baiklah sisa 1
dari 3 kamar peluru yang tersisa.”
Ucap Riana dengan senyuman.
Riana terus mengulangi apa yang ia
perbuat. Ia taruh ujung pistol kearah leher Jhoni yang sudah ia tembak. Dengan iringan musik orkestra dan suara piano
kematian, ia mulai menarik
pelatuk itu perlahan.
“Oh, tidak. Harusnya peluru kedua sudah keluar. Tak apalah, itu lebih baik dan lebih menantang. Tersisa 2
kamar peluru, 1 tembakan
kearah saya adalah penentuannya. Akankah saya yang menanggung akibat permainan
ini atau dirinya. Baiklah,
saya
mulai. Saya berharap anda mendoakan yang terbaik untuk saya, para detektive
sekalian.” Ucap Riana dengan
gembira.
Riana menikmati
permainan itu, walau dirinya
sedang melanda kematian,
tetapi
wajahnya tidak menunjukkan ke khawatiran sedikitpun dengan senyum dan tawa ia
mulai menarik pelatuk dengan sangat perlahan, sepertinya ia menikmati suasana yang tegang itu.
Sangat perlahan ia menarik pelatuk itu hingga membuat suasana di ruangan rapat
menjadi cemas akan hasilnya.
“3 Blok dari tempat kalian yang pertama, 2 belokkan ke kiri, dan 1 belokkan ke kanan, lalu masuklah ketempat saya berada.” Riana memberi tahukan lokasi kejadian.
Setelah mengucapkan hal
itu, Riana menarik pelatuknya dan “Treng”pelurunya pun tidak
keluar dari pistol itu. Riana
tertawa dengan sangat keras, ia melihat kondisi di ruangan rapat para detective
itu. Ia melihat kondisi yang sangat kacau balau disana, para detective banyak
yang meninggalkan kursi yang mereka duduki. Riana menghack CCTV diruang Rapat.
“Jika kalian pergi dari tempat duduk kalian, kalian akan melewatkan
hal yang sangat saya ingin tunjukkan. Jika kalian ingin melewatkannya, kalian akan merasakan
hal serupa seperti dirinya. Jadi silakan saksikan hingga acara ini
selesai.”suara dan wajah yang dibalik topeng Riana pun mulai sedikit mencuat, Para Detektive melihat mata Riana penuh amarah dan dendam.
“Bercanda. Kalian akan menyaksikan penutupannya
bukan.”mata yang menunjukkan dendam dan amarahnya pun hilang di wajah dibalik
topeng yang Riana pakai. Dengan
senyumannya ia menunjukkan hal yang sangat ingin ia pertunjukkan kepada
penonton.
Para Detektive mulai kembali menuju
ke kursi mereka masing-masing, Riana melihat itu semua. Walau Riana melihat,
tapi Riana tak bisa mendengar apapun percakapan mereka. Riana menoleh ke Jhoni
yang daritadi sudah ia acukan.
“Sepertinya, sandera saya sudah menghembuskan nafas terakhirnya. Permainannya pun mulai
menjadi tidak seru.”wajah sedihnya pun terlihat dimata Riana.
“Baiklah, Game is Game. Akan saya lanjutkan untuk memenuhi harapan penonton sekalian.
Walaupun permainannya membosankan.”ucap Riana melangsungkan permainan yang ia buat sendiri. Riana berjalan kearah leher yang ia tembak pertama kali, perlahan ia mengangkat
tangan kanannya dan meletakkan pistol itu tepat kearah leher Jhoni yang sudah tidak bernafas. Tanpa ragu ia
menembak, sepertinya ia
menginginkan untuk cepat selesai.
Riana melangkah kearah kapak yang dari tadi sudah berada di dekat gergaji yang
ia taruh. Lalu, ia berbicara.
“Baiklah ini, adalah akhir
dari permainan saya. See You Next Time, in the event want to Kill Us Episode 2. Bye Ladies and Gantle men.”
Riana mengoyang-goyangkan kapaknya ke
kanan dan ke kiri, lalu ia akat perlahan dan mengerakan dengan cepat dan menuju
kepala Jhoni. “Jbleesss” Riana sudah mengeksekusi dengan cara yang membuat para
detective menjadi pengecut. Dengan darah yang keluar dari kepala yang ia
penggal, ia tersenyum dan tertawa. Riana yang terlalu senang akan memandikan
darah tak menghiraukan situasi. Ia berjalan kearah kamera yang daritadi sudah
menyala dan melakukan siaran langsung segera dimatikan.
Sejam kemudian
Riana sudah membersihkan
kejahatannya, satu tetes darah pun tidak terlihat. Riana menghilangkan semua
jejak pembunuhannya, Riana tak pernah menyangka mereka terlalu lama mencari
dirinya. Mayatnya sudah menghilang dan tak ada jejak darah yang terlihat bahkan
pakai bahan kimia pun tak akan terkuak. Riana segera pergi menggunakan mobil
Mercedenz Benz berwarna putih milik Jhoni. Ia mendengar suara patroli mobil
polisi, ia segera pergi dari pabrik itu. Saat ia keluar gerbang, ia melihat
mobil patroli menuju kearahnya. Ia segera diberhentikan oleh petugas yang
melihat dirinya keluar rumah.
“Permisi mbak,
bolehkan mbak memperlihatkan STNK dan SIM.” tanya petugas.
“baik, pak.” sahut
Riana.
Riana memperlihatkan semuanya, dan
setelah itu ia pergi meninggalkan petugas itu. Riana menghubungi hp Andy yang
kebetulan ia kirim ke kantor polisi berserta foto-foto pembunuhannya.
“Halo.” tanya
inspektur Yuna.
“Ehmm.. makasih telah
menjadi penontonku. Apa aku terlalu berlebihan membuat aksi itu.” tanya Riana
dengan suara yang ia samarkan sama dengan suara pembunuh live itu.
“Siapa ini?” Tanya
inspektur Yuna sekali lagi.
“Apa kau lupa dengan
suara ini. Sayang sekali, padahal aku ingin sekali bermain dengan kalian.” tanya
Riana.
“Sialan kau, dimana
kau berada.” Kesal Inspektur Yuna.
“wow, cepat sekali
kau mengingatnya. Kau ingin tau dimana aku, baiklah dengan senang hati aku
mengizinkan kau melacak sinyal ini.” tantang Riana.
“Tanpa kau suruh,
akan kami lakukan hal itu. Penjahat murahan.” kesal inspektur Yuna.
“Tunggu sebentar,
jika seperti itu bukankah terlalu terburu-buru. Bukankah, akan lebih baik aku
memberikan suatu petunjuk yang jelas dimana aku melakukan pembuatan film itu.”
Sahut Riana.
“Tidak ada negosiasi
dengan penjahat, mengerti kau. Dasar bajingan.” kesal inspektur Yuna semakin
memuncak.
“Benarkah, jika itu
mau kau, baiklah tidak ada negosiasi. Sayangnya, bukankah itu membosankan untuk
membuat sebuah pertunjukan yang indah mengalahkan keindahan malam dan siang
hari. Akan aku tanyakan lagi, apa kau yakin dengan keputusan itu.” tanya Riana dengan
suara yang sedikit menantang.
Riana menunggu jawaban dengan
tersenyum manis, 15 menit kemudian.
“Baiklah, apa yang
ingin kau katakan.” Sahut inspektur Yuna yang mencoba mengulur-ulurkan waktu.
“Lama sekali kau menjawab,
bukankah itu sangat mencurigakan. Aku mengetahui rencanamu, terima kasih atas
rencanamu. Itu adalah hal yang terbaik, kau coba mengulurkan waktu. Baiklah,
aku temani itu. Hal ini membuat diriku bahagia.” sahut Riana dengan suara yang
berseri-seri
“Kau tau itu. Dalam
waktu 25 menit kau akan tertangkap. Cepat katakan apa yang ingin kau katakan.
Atau kau ingin membantuku selama 25 menit untuk mengulur-ulurkan waktu dengan
cara terus bercakap-cakap denganku.” tanya inspektur Yuna.
“Sepertinya menyenangkan
aku memilih bagian kedua. Hal itu menyenangkan bukan.” jawab Riana.
“buhahahaha. Memang
hal itu menyenangkan. Cepatlah tertawa karena hari ini adalah hari terakhir kau
tertawa. Bergembiralah, menangislah, apapun itu lakukan karena 20 menit kedepan
adalah hari terakhir kau hidup melihat matahari.” kesal Inspektur Yuna.
“Yakin sekali kau
dengan hal itu. Aku tak bisa di tangkap, karena aku adalah angin yang tak
terlihat, karena aku adalah awan yang dapat melarikan diri dari maut serta
dapat membelah-belahkan diriku ke berbagai tempat di penjuru negeri, karena aku
adalah bayangan yang tak terlihat tanpa cahaya. Jika kau dapat menangkapku,
silahkan bunuh aku dengan senang hati.” sahut Riana.
“Angin, Awan,
Bayangan itu adalah omong kosong seorang yang takut akan kematian. Tanpa kau
suruh aku akan membunuhmu dengan suka rela.” sahut inspektur Yuna.
“Bagaimana kita buat
kesepakatan, jika kau menangkapku aku akan menuruti kata-katamu, tapi jika aku
tidak tertangkap saat permainan ini usai nyawamulah yang akan menjadi
taruhannya. Bagaimana bukankah itu menguntungkanmu.” sahut Riana.
“Permainan selesai,
kapan itu selesai?” tanya Inspektur Yuna.
“Saat kelima pendosa
sudah musnah dihadapan sang tuhan. Bagaimana dengan kesepakatan itu.” jawab
Riana.
“Baiklah.” inspektur
Yuna mengiyakan kesepakatan itu.
“Bagaimana dengan
kita menambahkan peraturan yang tersedia.” tanya Riana.
“Apa yang ingin kau
tambahkan.” jawab inspektur Yuna.
“siapapun yang
menghalangi diriku memburu ketiga pendosa itu akan mati.” Sahut Riana
“Ada apa dengan
tambahan itu. Hal itu adalah seharusnya bukan. Aku dan timku akan menghalangkan
pembunuhan kamu. Jika menurut kau, kami pengganggu bukankah hal itu yang
seharusnya kami terima.” sahut inspektur Yuna.
“Aku anggap itu
dengan jawaban iya.” Jelas Riana.
Mereka
saling mengulur-ulurkan waktu, hingga akhirnya 25 menit akan terselesaikan
dengan hitungan mundur.
“bukankah ini adalah
hal terakhir. Ada kata terakhir yang ingin kau ucapkan?” tanya inspektur Yuna.
Riana dengan sengaja
tidak menjawab.
“kau diam berarti
iya, berdoalah agar kau tak tertangkap. Aku akan menghitung mundur dari 5, 4,
3, 2, 1. Buahahaha musnahlah kau.”
Dalam sekejap
percakapan itu berhenti hingga akhirnya Riana tertawa.
“Buahahahaha, kau
membuat diriku gembira dan membuat air mata ini menjadi sebuah tangisan
kebahagian. Bukankah ini, keinginanmu.” tertawa Riana.
Riana melihat petugas
sedang memberhentikan sebuah truk container.
“kau, bukankah jika
kau kabur akan membosankan.” tanya inspektur Yuna kepada pembunuh itu.
“melarikan diri, aku
masih berada di tempat kontainer itu.” jawab Riana.
“apa?”
“Bukankah sudahku
bilang bahwa aku adalah angin yang tak terlihat, aku adalah awan yang dapat
membelah-belahkan diri, dan aku adalah bayangan yang tak terlihat tanpa cahaya.”
Tawa Riana makin memuncak.
“Kau, akan aku
tangkap saat memburu targetmu.”
“coba saja kalau kau
bisa. Aku akan memberi jawaban tempat pertama kalian melakukan penangkapan di
tempat pembunuhanku. Gedung bekas Mobil rongsokan bukankah itu tempat pertama
kali kalian melakukannya.” Sahut Riana.
Keesokan Harinya, Riana menjadi murid
baru karena sasaran berikutnya adalah seorang siswa di sekolah baru yang akan
di tempati oleh Riana.
Riana sudah tiba ke gerbang
sekolahnya, ia sadar akan pandang semua siswa. Mereka mungkin
berfikir,”Malaikat berada disekolah kita.”
Saat Riana memasuki ruangan dengan
seorang wali kelas, dan ia memperkenalkan dirinya dengan sangat indah dan
membuat semua siswa terhipnotis hanya satu orang yang tak terkena hipnotis.
Wajahnya menandakan petaka yang sangat besar, siswa laki-laki itu tak
terhipnotis tapi ia terlihat ketakutan. Sedangkan Riana melihat siswa laki-laki
itu dengan tatapan dan senyuman yang membuat hati semua siswa luluh kepadanya.
“ Halo Namaku Riana
senang berkenalan dengan kalian.”
(To Be Continued)
-------------0000000-----------
Tidak ada komentar:
Posting Komentar