Rabu, 10 Agustus 2016

BAB 2: Want Kill Jhoni

Di tempat pemakaman terlihat perempuan yang wajahnya penuh dengan airmata di matanya.

“Ayah, Ibu, Kak Yani, Bang Eri, Rani, dan Adek Danny kalian bisa hidup tenangkah di alam sana. Aku akan membalaskan dendam kalian. Kenapa harus aku yang hidup. Hidup sendiri itu menyakitkan, ayah. Ibu, apa yang harus aku lakukan. Aku sudah bertekad untuk membunuh mereka yang sudah membunuh kalian. Ayah, aku sudah mengetahui yang membunuh kalian. Kemarin aku sudah membunuh salah satu dari mereka. Bang An, yang telah membunuh ayah sudah ku balaskan. Kalian tidurlah yang tenang, aku akan membuat kalian gembira saat bertemu di alam sana.” Ucap perempuan itu dengan penuh airmata dan senyum bahagia.

“Jhoni. Kau yang selanjutnya.” Wajah perempuan itu sangat menakutkan.

           Oh iya perempuan itu bernama Riana. Perempuan itu sering di panggil Ria, hanya beberapa orang yang memanggilnya Ana. Riana sudah menghidupi dirinya sendiri sejak 3 tahun terakhir. Ia ditinggal pergi oleh keluarganya. Ia melihat keluarganya terbunuh, setiap malam ia menangis jika ia teringat kejadian itu.

3 tahun yang lalu sebelum kejadian itu.

“Ibu, aku berangkat dulu yah.” Ucap Riana.

           Ibunya hanya mengangguk, sewaktu riana pamit dari rumahnya. Di dalam rumahnya terlihat sosok ayahnya yang menatap anaknya penuh kasih sayang. Ayahnya tak banyak bicara, dan juga ayahnya tak begitu suka bergaul dengan sekelompok manusia. Senyum di pipi ayahnya masih teringat jelas di bayang-bayang gelap Riana.

           Saat dirinya berjalan kearah sekolah, ia melihat sesosok abangnya. Abang Eri adalah kakak tertua di keluarganya. Sepertinya abang Eri sedang berdebat dengan salah satu temannya. Ia melihat teman abang Eri memukulnya.

           Sekolah telah usai, Riana mendengar suara perdebatan keluarganya. Ayahnya yang jarang marah terlihat murka terhadap anak pertamanya. Suara pertengkaran mereka mulai rendah saat Rani dan Riana memasuki rumahnya. Rani terlihat bingung dengan situasi ini. Di ruangan itu, terdapat Ibunya, ayahnya, Bang Eri, dan Kak Yani. Ayahnya menyuruh Kak Yani untuk menemani Rani dan Riana masuk ke kamar mereka. Tak terduga, dan tak disangka mereka mendengar suara pintu di gedor dengan sangat keras. Kak Yani yang mendengar itu, menyuruh Rani dan Riana bersembunyi sementara waktu dan setelah itu Kak Yani pergi ke ruang tamu. Bang Eri membukakan pintu. Saat ia membuka pintunya, Rani dan Riana mengenal salah satu suara tamu rumah itu. Mereka mendengar perdebatan yang sangat hebat, mereka terus berdebat hingga salah satu tamu menodongkan pistol itu ke Bang Eri. Tamu itu menanyakan sesuatu yang berhubungan dengan uang dan Bang Eri tidak menjawab pertanyaan itu, hingga ayahnya berbicara kepada Tamu itu.

“Apa yang kalian maksud?” ayahnya bertanya, sayangnya ia tidak mendapatkan jawaban yang tak pernah ia dengar karena saat itu, bunyi pistol bersamaan dengan pertanyaan ayahnya.

           Ayahnya tertembak tepat di dahinya, setelah insiden penembakan itu suasana sudah mulai kacau. Kak Yani pergi ke kamar yang terdapat Rani dan Riana yang sedang bersembunyi. Sayangnya ia ketahuan oleh seseorang. Saat Kak Yani memasuki ruangan itu, saat itulah hari terakhir Kak Yani bersama Riana. Seorang pria membuntutinya hingga masuk ke kamar, ia bertengkar dengan hebat oleh pria itu. Pria itu memaksa Kak Yani menuju tempat tidur, Riana melihat Kak Yani di perkosa oleh seorang pria bertopeng spiderman. Riana melihatnya dengan menahan suara tangisannya. Seorang Pria bertopeng gorilla datang ke kamar itu, ia mendengar suara aneh dari kolong tempat tidur. Saat ia lihat, Rani sedang bersembunyi di sana. Pria Gorilla itu menarik paksa Rani keluar, ia paksa untuk melakukan sama halnya dengan Kak Yani, tetapi Rani menolaknya. “Door.” Suara tembakan. Rani yang tertembak di kepalanya itu tergeletak di kasur yang penuh darah. Kak Yani yang melihat itu teriak histeris dengan menyebut nama Rani berulang kali, karena kesal Pria Spiderman itu menembak kepala Kak Yani untuk diam. Mereka menikmati apa yang mereka sedang lakukan itu di depat mata Riana. Riana yang tak kuat menahan suara tangisannya hampir saja pecah saat ibunya berteriak. “Ya Allah, Eri.” Suara tangisan ibunya semakin kencang saat ia melihat kondisi Danny anak terakhirnya mati karena di pukul sampai mati oleh 4 pria itu. Ibunya meminta untuk segera mencabut nyawanya kepada seorang tamu yang telah megorok leher Bang Eri. Tamu itu menuruti permintaannya. Ia ambil sebuah pisau dapur dan menusuknya sebanyak 5x di bagian perut, 2x di bagian dada, 1x di Jantung dan 2x di paru-paru.

           15 menit kemudian, Riana keluar dari tempat persembunyian. Ia melihat Kak Yani dan Rani terkapar lemas dan tak bernyawa tanpa sehelai pakaian. Ia berjalan keluar dan menuju keruang tamu, lantainya penuh dengan darah keluarganya. Tak ada satupun yang tersisa dari mereka yang tadi di ruang tamu. Ayahnya yang tak bernyawa karena tertembak pistol dan Ibunya yang tak bernyawa karena kehabisan darah, sedangkan Bang Eri tak bernyawa karena kehabisan darah dan Dan adiknya yang tak bernyawa karena di hakimi oleh pembunuh yang membunuh keluarganya. Ia menelepon polisi, dan meminta bantuan tetangga untuk membantunya.

           7 hari kemudian, Riana menjadi tersangka pembantaian satu keluarga. Riana di kirim ke rumah pusat rehabilitas karena ia di bawah umur dan tak bisa masuk kedalam penjara. Saat itu, detective yang menangani kasus itu ialah seorang inspektur yang sekarang di angkat menjadi pemimpin kantor detective pusat.

           Hari demi hari ia jalani dengan hidup yang putus asa. Hingga suatu saat ia menemukan petunjuk untuk balas dendam, ia belajar cara mengunakan computer atau ilmu computer dan berbagai hal saat di rehabilitas.

           Hari Jumat, suasana malam hari terlihat segar di mata Riana. Karena ia sudah mengetahui nama 1 orang yang ingin ia balaskan dendamnya Raju Jhoniansyah setelah ia membalaskan dendam kepada Andy Andrian. Ia tidur dengan nyenyak hingga membuat tidurnya tersenyum manis.

           Pagi Hari, Riana terlihat bersemangat menghadapi harinya. Entah apa yang membuatnya bahagia atau mungkin karena ia akan memangsa seseorang yang membuatnya bersemangat. Riana mengambil sebuah handphone yang dipunyai oleh Andy. Ia membuat Sms kepada Raju, sms yang seolah-olah itu memang Andy.

           Siang Hari. Tempat Mobil Rongsokan. Riana bersembunyi di tempat yang paling gelap, hingga suara mobil Mercendenz Benz berwarna putih datang dan masuk kedalam pabrik itu. Riana segera menutup gerbang mobil rongsokan dan di kunci rapat. Riana menghampiri Jhoni dengan jalan santai. Awalnya Jhoni tak mengenal siapa Riana. Jhoni menghampiri dan menggodanya. Wajah Riana yang tadinya sangat cantik dan manis sekali berubah sekali dengan wajah sehari-harinya. Mata yang penuh dengan dendam, senyum iblis yang membuat mangsa takut untuk mendekat, dan expresi yang membuat seseorang pingsan dan seorang bayi yang tadinya menangis menjadi diam. Wajah Jhoni terlihat ketakutan, ia masih belum menyadari apa yang akan di perbuat Riana kepadanya. Riana mengeluarkan sebuah pistol dan menembak kaki jhoni tepat di lutut kanannya. Tak menyangka bahwa ia akan tertembak oleh Riana, jatuh karena ia tak kuat menahan lututnya dan wajahnya pun mulai ketakutan sangat takut.

“Halo, Pria Tampan.” Senyum Riana yang bagaikan hawa nafsu membunuh sang iblis.

“Siapa, kamu?” tanya Jhoni dengan ketakutan dan menahan luka yang berada di lutut kanannya.

“Siapa, Aku, hahahaha lucu sekali kau.” tawa Riana yang bagaikan malaikat iblis itu menghampiri telinga Jhoni. “Kau masih tidak mengingatku bagaimana kalau aku segera mengingatkanmu.” Ucapnya dengan senyum yang membuat wajah Jhoni ketakutan.

“Apa maksudmu?” Ucap Jhoni yang berusaha menjauh dari Riana yang semakin menggila.

“Ehm, Maksudku ialah memainkan sebuah permainan. Bagaimana dengan ini, pertama kali aku ingin sekali memotong lidahmu yang begitu indah.” Sahut Riana sambil berjalan mendekat kearah jhoni yang semakin menghindar.

“Ku Mohon, aku tak mengerti apa maksudmu?” ucap Jhoni yang semakin menjauh dari Riana.

“Baiklah terpaksa aku membantu mengingatkanmu dengan apa yang kalian perbuat?” sahut Riana sambil berjalan mendekat dengan sebuah senyuman Malaikat pencabut Nyawa. “Apa kau sudah tak pernah menyesal dengan apa yang kau perbuat kepada kami.” Sambung Riana dengan wajah polosnya.

“Kau, adiknya Eri. Aku menyesal dengan yang ku perbuat. Aku mohon jangan membunuhku.” Ucap Jhoni memohon dengan wajah ketakutan.

“Kamu memang makin tampan, wahai pria yang sudah menodai banyak perempuan.” Riana semakin mendekat dan Jhoni semakin terpojok hingga tidak bisa mundur atau menghindari Riana lagi. “Apa Keluargaku memohon dengan wajah seperti ini dan keluargaku meminta untuk tidak dibunuh, apa yang kau sadari.” Matanya penuh dengan balas dendam.

“saat itu, aku belum menyadarinya. Ku mohon beri aku kesempatan kedua.”wajah Jhoni semakin pucat.

“Baiklah kesempatan kedua.”

Wajah Jhoni sudah mulai tenang, “Door tembakan kedua di bagian lutut kanannya”.

“Apa yang sedang kau lakukan.” wajah Jhoni menjadi ketakutan, ia menahan sakit dan tangisan.

“Kau Gila.” kesal Jhoni.

“aku. Gila. Bukannya karena kamu yang telah membunuh keluargaku.” wajah Riana semakin marah. Ia dekatkan bibirnya ke telinga kanan Jhoni dan Menaruh pistol yang sudah ia tembak ke lutut kanannya lagi.

“Lebih baik kita bermain saja, oke. Kita tentukan dengan itu.” Bisik Riana. “Door tembakan ketiga di lutut kanannya.

           Jhoni berteriak dengan kencang dan histeris hingga lidahnya keluar dari dalam mulutnya. Melihat itu Riana memegang lidahnya dan menembakan peluru ke lidahnya dan menebus hingga masuk kedalam perutnya. Riana menjauh dari Jhoni yang sudah lemas akibat perbuatannya. Mulutnya yang penuh darah menggambarkan bagaimana rasa kesakitan dirinya. Riana kemudian mendekat dan membawa Tang Potong. Ia membuka paksa mulutnya yang sudah tertutup rapat dan dibungkus oleh darah. “Door Tembakan Keempat di lutut Kanannya.” Saat itu mulut yang tertutup rapat terbuka karena kesakitan akan tembakan berulang kali. Riana memegang pipinya dan menekan dengan kencang hingga Jhoni sudah tak kuat untuk menangis. Tang Potong yang berada di tangan Kanannya mulai mencabut satu persatu gigi Jhoni secara paksa, setiap satu gigi Jhoni berteriak hingga ke gigi yang terakhirnya.

“Baiklah, aku sudah puas dengan ini. Bagaimana kita mulai saja permainannya.”

           Riana yang sedang menyiapkan permainannya tetap memaksa Jhoni untuk tetap membuka matanya dan mengajak ia berbicara mengapa ia menyiksa dirinya. Persiapan selesai, Riana segera membawa Jhoni ke dalam Kursi Eksekusi. Di situlah mimpi buruk para detective.

           Saat itu ia menyamar menjadi seorang laki-laki dengan menggunakan topeng dan berjalan layaknya laki-laki.

“Ehm, Ehm, Halo Para Detektive sekalian. Saya akan menampilkan suatu pertunjukkan yang sangat indah untuk kalian saksikan. Baiklah, saya akan mulai pertunjukkan yang indah ini. Tunggu dulu, mungkin saya akan menjelaskan sedikit tentang laki-laki ini. Dia bernama Raju Jhoniansyah, biasa dipanggil JHONI. Oh iya, bukannya saya sudah menunjukkan suatu yang hebat kemarin. Sepertinya kalian belum melihat isinya, padahal saya sudah memberikan langsung ke INSPEKTUR YUNA YUDISTIRA. Sepertinya hal kemarin hanya dianggap bercanda saja. Satu lagi, laki-laki yang ada di foto itu bernama Andy Andrian biasa dipanggil An. Baiklah saya mulai pertunjukkannya, silakan para detektive menikmati pertunjukkan yang akan saya tampilkan.” suara Riana yang disamarkan.

           Riana mendekat dengan membawa gergaji mesin ditangannya. Jhoni bergerak memberontak seperti tidak mau dibunuh. Kursi itu menahan setiap gerak Jhoni. Mulutnya tidak sanggup berbicara karena ia sudah tidak mampu berbicara. Jhoni pasrah akan nasib nyawanya. Riana berjalan dengan diiringi orkestra, Riana mulai memotong jari tangan Jhoni. Riana tersenyum dan tertawa saat ia berhasil memotong salah satu jari di tangan kirinya. Riana semakin menikmati apa yang ia lakukan, dengan tertawa dan tersenyum yang hampir dipenuhi darah korban di sekitar tangan dan wajahnya. Baginya hal itu adalah hal yang menyenangkan. Dengan santainya ia memotong semua jari yang ada di tangan kiri dan tangan kanannya. Lalu, ia bergerak mendekati telinga Jhoni. Ia berbisik ke telinga Jhoni dan mengatakan. “Permainan baru akan dimulai, Honey.” Setelah selesai ia menjauh dari Jhoni dan mengambil pistol revolver smith & Wesson Model 10. Ia mengeluarkan isi semua peluru dari kamar peluru. Lalu, ia memasukkan 2 peluru ke dalam kamar peluru. Kemudian, ia putar kamar peluru itu.

“Halo, para penonton sekalian. Apakah tadi pertunjukkan yang sangat hebat untuk ditunjukkan. Saya akan bertaruh, kalian tadi melihat saya memasukkan 2 peluru kedalam 2 dari 6 kamar peluru. Kita akan bermain game, taruhannya adalah nyawa. Saya akan menembak peluru kepada diri saya sendiri dan saya akan menembakkan peluru kepada dirinya. Itu adalah hal yang adil bukan para penonton sekalian. Jika seperti ini akan menjadi hal yang sangat luar biasa. Siapakah yang akan tertembak duluan, saya adalah sang pembunuh berantai dan Jhoni sang korban akan selamat, atau kebalikan dari hal tersebut. Silakan kita mulai permainan ini. Aduh, saya lupa mengatakannya dia sudah 4 kali saya tembak ditempat yang sama, kalian bisa melihatnya kan. Baiklah, tanpa basa-basi saya akan mulai. Pertama, saya akan meletakkan pistolnya ke kepala saya sendiri.” Ucap Riana

Riana mulai menghitung dengan hitungan mundur. “5 ,4 ,3 ,2 ,1”. Riana Segera menarik pelatuk dari pistol revolver. “Treng”

“Wow, saya sangat beruntung hari ini.”ucap Riana dengan tawa yang sangat mengerikan.

“Oke, saya akan mulai.” Riana menempelkan pistolnya keleher Jhoni. Dengan senyuman dan tawa, ia menarik pelatuk itu. “Door”. Pistol itu menembakkan isinya tepat kearah leher Jhoni.

“Wow, 1 dari 2 peluru sudah keluar, anda sangat kurang beruntung Jhoni. Baiklah kita mulai ronde kedua.” Ucap Riana dengan Nada gembira

Seperti sebelumnya, Riana menempelkan pistol yang sudah ia tembak kearah kepalanya. Tanpa basa-basi, ia menarik pelatuknya dengan senyum yang sangat lebar, senyumannya sekilas terlihat manis. “Treng”

“Lagi-lagi saya sangat beruntung. Baiklah sisa 1 dari 3 kamar peluru yang tersisa.” Ucap Riana dengan senyuman.

Riana terus mengulangi apa yang ia perbuat. Ia taruh ujung pistol kearah leher Jhoni yang sudah ia tembak. Dengan iringan musik orkestra dan suara piano kematian, ia mulai menarik pelatuk itu perlahan.

“Oh, tidak. Harusnya peluru kedua sudah keluar. Tak apalah, itu lebih baik dan lebih menantang. Tersisa 2 kamar peluru, 1 tembakan kearah saya adalah penentuannya. Akankah saya yang menanggung akibat permainan ini atau dirinya. Baiklah, saya mulai. Saya berharap anda mendoakan yang terbaik untuk saya, para detektive sekalian.” Ucap Riana dengan gembira.

           Riana menikmati permainan itu, walau dirinya sedang melanda kematian, tetapi wajahnya tidak menunjukkan ke khawatiran sedikitpun dengan senyum dan tawa ia mulai menarik pelatuk dengan sangat perlahan, sepertinya ia menikmati suasana yang tegang itu. Sangat perlahan ia menarik pelatuk itu hingga membuat suasana di ruangan rapat menjadi cemas akan hasilnya.

“3 Blok dari tempat kalian yang pertama, 2 belokkan ke kiri, dan 1 belokkan ke kanan, lalu masuklah ketempat saya berada.” Riana memberi tahukan lokasi kejadian.

           Setelah mengucapkan hal itu, Riana menarik pelatuknya dan “Treng”pelurunya pun tidak keluar dari pistol itu. Riana tertawa dengan sangat keras, ia melihat kondisi di ruangan rapat para detective itu. Ia melihat kondisi yang sangat kacau balau disana, para detective banyak yang meninggalkan kursi yang mereka duduki. Riana menghack CCTV diruang Rapat.

“Jika kalian pergi dari tempat duduk kalian, kalian akan melewatkan hal yang sangat saya ingin tunjukkan. Jika kalian ingin melewatkannya, kalian akan merasakan hal serupa seperti dirinya. Jadi silakan saksikan hingga acara ini selesai.”suara dan wajah yang dibalik topeng Riana pun mulai sedikit mencuat, Para Detektive melihat mata Riana penuh amarah dan dendam.

“Bercanda. Kalian akan menyaksikan penutupannya bukan.”mata yang menunjukkan dendam dan amarahnya pun hilang di wajah dibalik topeng yang Riana pakai. Dengan senyumannya ia menunjukkan hal yang sangat ingin ia pertunjukkan kepada penonton.

           Para Detektive mulai kembali menuju ke kursi mereka masing-masing, Riana melihat itu semua. Walau Riana melihat, tapi Riana tak bisa mendengar apapun percakapan mereka. Riana menoleh ke Jhoni yang daritadi sudah ia acukan.
“Sepertinya, sandera saya sudah menghembuskan nafas terakhirnya. Permainannya pun mulai menjadi tidak seru.”wajah sedihnya pun terlihat dimata Riana.

“Baiklah, Game is Game. Akan saya lanjutkan untuk memenuhi harapan penonton sekalian. Walaupun permainannya membosankan.”ucap Riana melangsungkan permainan yang ia buat sendiri. Riana berjalan kearah leher yang ia tembak pertama kali, perlahan ia mengangkat tangan kanannya dan meletakkan pistol itu tepat kearah leher Jhoni yang sudah tidak bernafas. Tanpa ragu ia menembak, sepertinya ia menginginkan untuk cepat selesai. Riana melangkah kearah kapak yang dari tadi sudah berada di dekat gergaji yang ia taruh. Lalu, ia berbicara.

“Baiklah ini, adalah akhir dari permainan saya. See You Next Time, in the event want to Kill Us Episode 2. Bye Ladies and Gantle men.”

           Riana mengoyang-goyangkan kapaknya ke kanan dan ke kiri, lalu ia akat perlahan dan mengerakan dengan cepat dan menuju kepala Jhoni. “Jbleesss” Riana sudah mengeksekusi dengan cara yang membuat para detective menjadi pengecut. Dengan darah yang keluar dari kepala yang ia penggal, ia tersenyum dan tertawa. Riana yang terlalu senang akan memandikan darah tak menghiraukan situasi. Ia berjalan kearah kamera yang daritadi sudah menyala dan melakukan siaran langsung segera dimatikan.

Sejam kemudian

           Riana sudah membersihkan kejahatannya, satu tetes darah pun tidak terlihat. Riana menghilangkan semua jejak pembunuhannya, Riana tak pernah menyangka mereka terlalu lama mencari dirinya. Mayatnya sudah menghilang dan tak ada jejak darah yang terlihat bahkan pakai bahan kimia pun tak akan terkuak. Riana segera pergi menggunakan mobil Mercedenz Benz berwarna putih milik Jhoni. Ia mendengar suara patroli mobil polisi, ia segera pergi dari pabrik itu. Saat ia keluar gerbang, ia melihat mobil patroli menuju kearahnya. Ia segera diberhentikan oleh petugas yang melihat dirinya keluar rumah.

“Permisi mbak, bolehkan mbak memperlihatkan STNK dan SIM.” tanya petugas.

“baik, pak.” sahut Riana.

           Riana memperlihatkan semuanya, dan setelah itu ia pergi meninggalkan petugas itu. Riana menghubungi hp Andy yang kebetulan ia kirim ke kantor polisi berserta foto-foto pembunuhannya.

“Halo.” tanya inspektur Yuna.

“Ehmm.. makasih telah menjadi penontonku. Apa aku terlalu berlebihan membuat aksi itu.” tanya Riana dengan suara yang ia samarkan sama dengan suara pembunuh live itu.

“Siapa ini?” Tanya inspektur Yuna sekali lagi.

“Apa kau lupa dengan suara ini. Sayang sekali, padahal aku ingin sekali bermain dengan kalian.” tanya Riana.

“Sialan kau, dimana kau berada.” Kesal Inspektur Yuna.

“wow, cepat sekali kau mengingatnya. Kau ingin tau dimana aku, baiklah dengan senang hati aku mengizinkan kau melacak sinyal ini.” tantang Riana.

“Tanpa kau suruh, akan kami lakukan hal itu. Penjahat murahan.” kesal inspektur Yuna.

“Tunggu sebentar, jika seperti itu bukankah terlalu terburu-buru. Bukankah, akan lebih baik aku memberikan suatu petunjuk yang jelas dimana aku melakukan pembuatan film itu.” Sahut Riana.

“Tidak ada negosiasi dengan penjahat, mengerti kau. Dasar bajingan.” kesal inspektur Yuna semakin memuncak.

“Benarkah, jika itu mau kau, baiklah tidak ada negosiasi. Sayangnya, bukankah itu membosankan untuk membuat sebuah pertunjukan yang indah mengalahkan keindahan malam dan siang hari. Akan aku tanyakan lagi, apa kau yakin dengan keputusan itu.” tanya Riana dengan suara yang sedikit menantang.

           Riana menunggu jawaban dengan tersenyum manis, 15 menit kemudian.

“Baiklah, apa yang ingin kau katakan.” Sahut inspektur Yuna yang mencoba mengulur-ulurkan waktu.

“Lama sekali kau menjawab, bukankah itu sangat mencurigakan. Aku mengetahui rencanamu, terima kasih atas rencanamu. Itu adalah hal yang terbaik, kau coba mengulurkan waktu. Baiklah, aku temani itu. Hal ini membuat diriku bahagia.” sahut Riana dengan suara yang berseri-seri

“Kau tau itu. Dalam waktu 25 menit kau akan tertangkap. Cepat katakan apa yang ingin kau katakan. Atau kau ingin membantuku selama 25 menit untuk mengulur-ulurkan waktu dengan cara terus bercakap-cakap denganku.” tanya inspektur Yuna.

“Sepertinya menyenangkan aku memilih bagian kedua. Hal itu menyenangkan bukan.” jawab Riana.

“buhahahaha. Memang hal itu menyenangkan. Cepatlah tertawa karena hari ini adalah hari terakhir kau tertawa. Bergembiralah, menangislah, apapun itu lakukan karena 20 menit kedepan adalah hari terakhir kau hidup melihat matahari.” kesal Inspektur Yuna.

“Yakin sekali kau dengan hal itu. Aku tak bisa di tangkap, karena aku adalah angin yang tak terlihat, karena aku adalah awan yang dapat melarikan diri dari maut serta dapat membelah-belahkan diriku ke berbagai tempat di penjuru negeri, karena aku adalah bayangan yang tak terlihat tanpa cahaya. Jika kau dapat menangkapku, silahkan bunuh aku dengan senang hati.” sahut Riana.

“Angin, Awan, Bayangan itu adalah omong kosong seorang yang takut akan kematian. Tanpa kau suruh aku akan membunuhmu dengan suka rela.” sahut inspektur Yuna.

“Bagaimana kita buat kesepakatan, jika kau menangkapku aku akan menuruti kata-katamu, tapi jika aku tidak tertangkap saat permainan ini usai nyawamulah yang akan menjadi taruhannya. Bagaimana bukankah itu menguntungkanmu.” sahut Riana.

“Permainan selesai, kapan itu selesai?” tanya Inspektur Yuna.

“Saat kelima pendosa sudah musnah dihadapan sang tuhan. Bagaimana dengan kesepakatan itu.” jawab Riana.

“Baiklah.” inspektur Yuna mengiyakan kesepakatan itu.

“Bagaimana dengan kita menambahkan peraturan yang tersedia.” tanya Riana.

“Apa yang ingin kau tambahkan.” jawab inspektur Yuna.

“siapapun yang menghalangi diriku memburu ketiga pendosa itu akan mati.” Sahut Riana

“Ada apa dengan tambahan itu. Hal itu adalah seharusnya bukan. Aku dan timku akan menghalangkan pembunuhan kamu. Jika menurut kau, kami pengganggu bukankah hal itu yang seharusnya kami terima.” sahut inspektur Yuna.

“Aku anggap itu dengan jawaban iya.” Jelas Riana.

Mereka saling mengulur-ulurkan waktu, hingga akhirnya 25 menit akan terselesaikan dengan hitungan mundur.

“bukankah ini adalah hal terakhir. Ada kata terakhir yang ingin kau ucapkan?” tanya inspektur Yuna.

Riana dengan sengaja tidak menjawab.

“kau diam berarti iya, berdoalah agar kau tak tertangkap. Aku akan menghitung mundur dari 5, 4, 3, 2, 1. Buahahaha musnahlah kau.”

Dalam sekejap percakapan itu berhenti hingga akhirnya Riana tertawa.

“Buahahahaha, kau membuat diriku gembira dan membuat air mata ini menjadi sebuah tangisan kebahagian. Bukankah ini, keinginanmu.” tertawa Riana.

Riana melihat petugas sedang memberhentikan sebuah truk container.

“kau, bukankah jika kau kabur akan membosankan.” tanya inspektur Yuna kepada pembunuh itu.

“melarikan diri, aku masih berada di tempat kontainer itu.” jawab Riana.

“apa?”

“Bukankah sudahku bilang bahwa aku adalah angin yang tak terlihat, aku adalah awan yang dapat membelah-belahkan diri, dan aku adalah bayangan yang tak terlihat tanpa cahaya.” Tawa Riana makin memuncak.

“Kau, akan aku tangkap saat memburu targetmu.”

“coba saja kalau kau bisa. Aku akan memberi jawaban tempat pertama kalian melakukan penangkapan di tempat pembunuhanku. Gedung bekas Mobil rongsokan bukankah itu tempat pertama kali kalian melakukannya.” Sahut Riana.

           Keesokan Harinya, Riana menjadi murid baru karena sasaran berikutnya adalah seorang siswa di sekolah baru yang akan di tempati oleh Riana.

           Riana sudah tiba ke gerbang sekolahnya, ia sadar akan pandang semua siswa. Mereka mungkin berfikir,”Malaikat berada disekolah kita.”

           Saat Riana memasuki ruangan dengan seorang wali kelas, dan ia memperkenalkan dirinya dengan sangat indah dan membuat semua siswa terhipnotis hanya satu orang yang tak terkena hipnotis. Wajahnya menandakan petaka yang sangat besar, siswa laki-laki itu tak terhipnotis tapi ia terlihat ketakutan. Sedangkan Riana melihat siswa laki-laki itu dengan tatapan dan senyuman yang membuat hati semua siswa luluh kepadanya.

“ Halo Namaku Riana senang berkenalan dengan kalian.”





(To Be Continued)


-------------0000000-----------

Bab 2 : Want Kill Jhoni