Bab 1: Want Kill You
Dari ruangan yang gelap
ada seseorang wanita dengan rambut yang terurai sambil memegang pisau. Bibirnya
terus bergemumam. Pisau yang dipegangnya berlumuran darah. Darah terus menetes
dari ujung pisau itu. Dia hanya mengucapkan dan tersenyum.
“I WANT KILL YOU”ucap wanita itu dengan tersenyum
iblisnya.
Didalam ruangan itu bukan hanya seorang wanita, disana ada seorang laki-laki paruh baya tergeletak dengan
bermandikan darahnya sendiri.
“Riana, lepaskan
aku. Aku tidak ingin mati.”rintih laki-laki itu sambil menahan sakit. Perutnya
yang terus menerus mengeluarkan darah.
“Kau tidak ingin mati. Lalu, siapa yang harus ku bunuh?”ucap wanita itu dengan wajah
innocent. Sontak membuat bibir laki-laki itu kaku.
“KAU INGIN AKU MEMBUNUH SIAPA, HAH.”bentak wanita itu semakin membuat laki-laki itu
merasa takut.
“Bu..bu...nuh si..si...ssss...siapapun asalkan
ja.....jangan diriku.”ucap laki-laki itu semakin ketakutan.
Laki-laki itu ingin melawan tapi apa daya dia
tidak mempunyai kekuatan sama sekali. Wanita itu sudah menusuk dirinya sebanyak
2x di bagian perut laki-laki itu.
“Siapapun?”ucap wanita itu dengan senyum manisnya
sambil mendekati laki-laki itu.
“JANGAN MENDEKAT”pinta laki-laki itu sambil
berteriak dengan suara parau dan membuat wanita itu berhenti.
“Kau ingin aku mendekat?”ucap wanita itu dengan
senyum iblisnya.
“KAU TIDAK MENDENGARNYA? JANGAN MENDEKAT!”bentak
laki-laki itu sekuat mungkin dengan wajah yang semakin pucat dan berusaha
menghindar kebelakang saat wanita itu mendekatinya.
“Buahahahahahahaaa! Kau ingin aku menjauh darimu?”tawa wanita itu membuat laki-laki itu semakin
takut dan lemah. “tanpa ku dekati... Kau ... Juga akan mati dengan
saaaaannngaaatttt perlahan.”wanita itu semakin memperburuk suasana laki-laki
itu dengan senyumnya yang terkenal manis itu.
Akhirnya, laki-laki itu menyerah untuk menghindar dari wanita itu. Laki-laki
itu menangis dengan tersedu-sedu sambil memohon untuk melepaskannya dan tidak
membunuhnya. Tapi itu hanya semakin membuat wanita itu semakin ingin
mempermainkan laki-laki itu.
“Hahahaha kau lucu sekali. Kau sangat tampan
ketika menangis. Kau ingin menangis lebih kencang supaya lebih terlihat
tampan.”tanya wanita itu lagi dan membuat laki-laki itu semakin lama semakin
lemah jika tidak segera dibawah kerumah sakit hidupnya akan menghilang.
“KAU... GILA”bentak laki-laki itu dengan
menunjukkan senyum miringnya.
“Gila? Aku? Hah ,kau tau! Yang membuat ku gila
adalah kau! Kau membuatku gila dengan membunuh anggota keluargaku. KAU TAU
ITU?”bentak wanita itu dengan wajah yang sangat ingin menbunuh. Wanita itu
meletakkan pisau tepat di leher laki-laki itu.
“Arrrrggggghhh... Kau ... Arrggghhh ... Gila
...”rintih laki-laki itu kesakitan.
Ternyata ujung pisau itu
sudah masuk perlahan dileher laki-laki itu.
“Kau membunuh dengan rasa sesakit ini.”bisik
wanita itu sambil memasukkan pisau itu dileher laki-laki itu.
“Arrrgggghhhh ... To .... To.... Lo .... Tolong
lepaskan” dengan sekuat tenaga laki-laki itu mengeluarkan suaranya.
“Bukan aku yang membunuh keluargamu.”nafas
laki-laki itu mulai terasa sesak. Airmata laki-laki itu berjatuhan dipipinya.
“Bukan kamu. Bukannya sudah jelas kau dan
kelompokmulah yang membunuh seluruh keluargaku.”Wanita itu membentak laki-laki
itu dengan keras tepat di telinga kanannya.
“Sumpah, bukan
aku. Jhoni yang membunuh Dan adikmu.”ucap laki-laki itu dengan nafas yang
tersengak-sengak.
“Jhoni.”ucap wanita itu.
“I .. Ya. Jik.. Aaaa kau ingin memanggil, J.. Ho ... Ni ...”suara laki-laki itu berhenti dan wanita
itu semakin tertawa menyaksikan
kematian seseorang.
Keesokan harinya.
Kantor detektive pusat.
“Hey, Detektive
Muda. Kau dipanggil oleh Inspektur Yuna diruangannya.”ucap salah satu detektive
kepada detektive muda.
“Oh,
oke. Aku
akan kesana segera.”sahut Detektive yang bertuliskan “Santosa“ di kaos yang dia
kenakan.
Detektive Santosa atau
yang dikenalkan dengan Detektive San pengingat TKP (Tempat Kejadian Perkara).
Ia masih mencicipi bangku sekolah menengah atas, itulah
kenapa banyak detektive memanggilnya Detektive Muda.
Detektive San, berjalan
perlahan keruangan Inspektur yang sedang menunggunya. “Tok .. Tok .. Tok ..”
Detektive San mengetuk Pintunya.
“Siapa?”sahut Inspektur Yuna.
“San,
disini.
Inspektur Yuna.”Ucap Detektive San.
“Silakan Masuk.”Inspektur Yuna, menyuruh San memasuki ruangannya.
Detektive San membuka pintu sangat perlahan seperti
seorang yang sedang membobol pintu rumah.
“Kenapa Inspektur Yuna memanggilku kesini.”ucap
detektive San.
“Lihat ini.”Inspektur Yuna mengambil sebuah map
dan memberikannya pada detektive San untuk melihat isi didalamnya.
Detektive San kaget
bukan main, saat ia membuka map itu
terlihat orang yang sudah tak bernyawa didalam foto. Pembunuhan itu, setiap adegan pelakunya memfoto kejahatannya sendiri.
Disalah satu belakang foto itu tertulis “Jln. Resindent utara Blok E Gedung
Cuci Mobil.”. Lalu, ia menanyakan kepada
Inspektur Yuna.
“Inikan ada alamatnya. Jadi kita sudah mengetahui
Lokasi pembunuhannya dan letak korban yang sudah dibunuh ini.”sahut Detektive
San.
“Menurutmu seperti itu. Tapi, aku sudah menyuruh Divisi 2 untuk kesana. Kau tau
hasilnya seperti apa?”Tanya Inspektur Yuna
“Disana,
pasti Lokasi pembunuhannya dan disana pasti ada mayat laki-laki ini.”Jawab
Detektive San.
“Kau salah. Disana memang tempat perkaranya, Tapi.”Sahut Inspektur Yuna.
“Tapi,
apa? Mayat laki-laki itu tidak ada disana.”ucap
detektive San.
“Tepat, Disana
hanya ada ini.”Inspektur Yuna menjulurkan sebuah amplop sedang kearah Detektive
San. Detektive San mengambil lalu membuka isi amplop itu.
Saat dilihat isinya
hanya sebuah Foto dan Tulisan didalam Foto itu.
“YOU THE NEXT, JHONI.
I WANT KILL YOU”Tulisan itu ditulis dengan darah dari mayat laki-laki itu.
Saat suasana sudah mulai
sepi, seseorang berteriak dan
langsung membuka pintu ruangan Inspektur Yuna.
“Inspektur, Gawat.”sahut
salah satu detektive dengan wajah pucat.
“Ada apa?”tanya Inspektur Yuna.
“Mohon ikut kami keruangan Rapat segera.”jawabnya
dengan nada ketakutan.
Akhirnya mereka pergi keruangan
rapat. Saat tiba disana, Inspektur terdiam
sesaat. Di Ruangan itu tidak ada yang berani berbicara. Mungkin mereka terkejut
dan heran saat seorang laki-laki gemuk yang sedang di ikat di kursi yang terlihat di layar. Kaki, tangan, dan lehernya di ikat ke
kursi, tetapi mulutnya tidak
dipakaikan penutup mulut. Kursi yang berbentuk seperti kursi untuk menyiksa
orang ,laki-laki itu sedang di ikat disana. Disebelah laki-laki itu terdapat
seseorang laki-laki kurus dan memakai topeng serta memegang pisau yang terdapat
bercak-bercak darah dari laki-laki itu.
“Ehm,
Ehm, Halo Para Detektive sekalian. Saya akan menampilkan suatu
pertunjukkan yang sangat indah untuk kalian saksikan. Baiklah, saya akan mulai pertunjukkan yang indah ini. Tunggu dulu, mungkin saya akan menjelaskan sedikit tentang laki-laki
ini. Dia bernama Raju Jhoniansyah,
biasa
dipanggil JHONI. Oh iya, bukannya saya sudah menunjukkan suatu yang hebat
kemarin. Sepertinya kalian belum melihat isinya, padahal
saya sudah memberikan langsung ke INSPEKTUR YUNA YUDISTIRA. Sepertinya hal
kemarin hanya dianggap bercanda saja. Satu lagi, laki-laki
yang ada di foto itu bernama Andy Andrian biasa dipanggil An. Baiklah saya
mulai pertunjukkannya, silakan para detektive
menikmati pertunjukkan yang akan saya tampilkan.”suara laki-laki yang
disamarkan.
Laki-laki itu mendekat
dengan membawa gergaji mesin ditangannya. Laki-laki gemuk itu bergerak
memberontak seperti tidak mau dibunuh. Kursi itu menahan setiap gerak Pria
Gemuk itu. Mulutnya tidak sanggup berbicara karena ia sudah tidak mampu
berbicara. Pria gemuk itu pasrah akan nasib nyawanya. Berjalan dengan diiringi
orkestra, laki-laki itu mulai
memotong jari tangan laki-laki gemuk itu. Laki-laki itu tersenyum dan tertawa
saat ia berhasil memotong salah satu jari di tangan kirinya. Laki-laki itu
semakin menikmati apa yang ia lakukan, dengan
tertawa dan tersenyum yang hampir dipenuhi
darah korban di sekitar tangan dan wajahnya. Baginya hal itu adalah hal yang
menyenangkan. Dengan santainya ia memotong semua jari yang ada di
tangan kiri dan tangan kanannya. Lalu, ia
bergerak mendekati telinga laki-laki gemuk itu. Saat itu, detektive hanya diam terpaku di layar yang berisi
adegan-adegan pembunuhan laki-laki gemuk itu. Banyak detektive yang mual
melihat isi perut korban hampir dikeluarkan oleh laki-laki itu. Para detektive
tidak tau apa yang ia berisikan kepada laki-laki gemuk itu. Setelah selesai ia
menjauh dari laki-laki gemuk itu dan mengambil pistol revolver smith &
Wesson Model 10. Ia mengeluarkan isi semua peluru dari kamar peluru. Lalu, ia memasukkan 2 peluru ke dalam kamar peluru. Kemudian, ia putar kamar peluru itu.
“Halo,
para
penonton sekalian. Apakah tadi pertunjukkan yang sangat hebat untuk
ditunjukkan. Saya akan bertaruh,
kalian tadi
melihat saya memasukkan 2 peluru kedalam 2 dari 6 kamar peluru. Kita akan
bermain game, taruhannya adalah nyawa.
Saya akan menembak peluru kepada diri saya sendiri dan saya akan menembakkan
peluru kepada dirinya. Itu adalah hal yang adil bukan para penonton sekalian.
Jika seperti ini akan menjadi hal yang sangat luar biasa. Siapakah yang akan
tertembak duluan, saya adalah sang
pembunuh berantai dan Jhoni sang korban akan selamat, atau kebalikan dari hal tersebut. Silakan kita mulai
permainan ini. Aduh, saya lupa mengatakannya
di sudah 4 kali saya tembak
ditempat yang sama, kalian bisa melihatnya kan. Baiklah,
tanpa
basa-basi saya akan mulai. Pertama,
saya akan
meletakkan pistolnya ke kepala saya sendiri.”
Laki-laki itu mulai menghitung dengan hitungan mundur. “5 ,4 ,3
,2 ,1”. Laki-laki itu menarik pelatuk dari pistol revolver. “Treng”
“Wow,
saya sangat
beruntung hari ini.”ucapnya dengan tawa yang sangat mengerikan.
“Oke,
saya akan
mulai.” laki-laki itu menempelkan pistolnya keleher sanderanya. Dengan senyuman
dan tawa, ia menarik pelatuk itu.
“Door”. Pistol itu menembakkan isinya tepat kearah leher laki-laki gemuk. Para
detektive yang menyasikannya pun tak kuat melihat laki-laki itu saat tertembak
tepat mengenai lehernya.
“Wow,
1 dari 2
peluru sudah keluar, anda sangat kurang beruntung
Jhoni. Baiklah kita mulai ronde kedua.”
Seperti sebelumnya, ia menempelkan pistol yang sudah ia tembak kearah
kepalanya. Tanpa basa-basi, ia menarik pelatuknya dengan
senyum yang sangat lebar, senyumannya sekilas terlihat manis. “Treng”
“Lagi-lagi saya sangat beruntung. Baiklah sisa 1
dari 3 kamar peluru yang tersisa.”
Laki-laki itu mengulangi
apa yang ia perbuat. Ia taruh ujung pistol kearah leher sanderanya yang sudah ia tembak. Dengan iringan musik orkestra
dan suara piano kematian, ia mulai menarik pelatuk
itu perlahan. Perlahan-lahan ia tarik, membuat
suasana diruangan rapat menjadi gelisah. Para detektive tidak bisa berbuat
apa-apa, Inspektur Yuna sudah
menyuruh melacak siaran langsungnya, tetapi
ia tidak mendapatkan apapun kecuali adalah alamat palsu yang sudah laki-laki
itu rencanakan. Laki-laki itu akhirnya menarik pelatuknya “Treng”
“Oh,
tidak.
Harusnya peluru kedua sudah keluar. Tak apalah, itu
lebih baik dan lebih menantang. Tersisa 2 kamar peluru, 1 tembakan kearah saya adalah penentuannya. Akankah saya
yang menanggung akibat permainan ini atau dirinya. Baiklah, saya mulai. Saya berharap anda mendoakan yang terbaik
untuk saya, para detektive
sekalian.”
Laki-laki itu menikmati
permainan itu, walau dirinya sedang
melanda kematian, tetapi wajahnya tidak
menunjukkan ke khawatiran sedikitpun dengan senyum dan tawa ia mulai menarik
pelatuk dengan sangat perlahan, sepertinya ia menikmati
suasana yang tegang itu. Sangat perlahan ia menarik pelatuk itu hingga membuat
suasana di ruangan rapat menjadi cemas akan hasilnya. Para detektive itu mulai
berharap agar 1 peluru itu mengenai laki-laki itu, mereka semua berharap hal yang sama. Ia menarik pelatuk
itu dan mengucapkan sesuatu kepada para detektive itu.
“3 Blok dari tempat kalian yang pertama, 2 belokkan ke kiri, dan
1 belokkan ke kanan, lalu masuklah ketempat
saya berada.”
Setelah mengucapkan hal
itu, laki-laki itu menarik
pelatuknya dan “Treng”pelurunya pun tidak keluar dari pistol itu. Suasana pun
mulai tak terkendalikan lagi. Di ruangan rapat pun mulai kacau balau. “Tidak
mungkin” itu teriakan para detektive. Para detektive pun mulai berhamburan
keluar pintu ruangan rapat. Saat mereka ingin membuka pintunya, laki-laki itu pun mengucapkan.
“Jika kalian pergi dari tempat duduk kalian, kalian akan melewatkan hal yang sangat saya ingin
tunjukkan. Jika kalian ingin melewatkannya, kalian
akan merasakan hal serupa seperti dirinya. Jadi silakan saksikan hingga acara
ini selesai.”suara dan wajah yang dibalik topeng itu pun mulai sedikit mencuat, mereka melihat mata laki-laki itu penuh amarah dan
dendam.
“Bercanda. Kalian akan menyaksikan penutupannya
bukan.”mata yang menunjukkan dendam dan amarahnya pun hilang di wajah dibalik
topeng laki-laki itu. Dengan senyumannya ia menunjukkan hal yang sangat ingin
ia pertunjukkan kepada penonton.
Para detektive mulai
tenang saat laki-laki itu mengucapkan hal itu, mereka
kembali kebangkunya masing-masing.
“Pembunuh itu psikopat, korbannya sudah mati masih saja dilanjutkan. Tak punya
rasa kemanusiaan.”sahut salah satu detektive.
Laki-laki itu menoleh kearah laki-laki gemuk itu.
“Sepertinya, sandera
saya sudah menghembuskan nafas terakhirnya. Permainannya pun mulai menjadi
tidak seru.”wajah sedihnya pun terlihat dimata laki-laki itu.
“Baiklah, Game
is Game. Akan saya lanjutkan untuk memenuhi harapan penonton sekalian. Walaupun
permainannya membosankan.”ucap laki-laki itu melangsungkan permainan yang ia
buat sendiri. Laki-laki itu berjalan kearah leher yang ia tembak pertama kali, perlahan ia mengangkat tangan kanannya dan meletakkan
pistol itu tepat kearah leher laki-laki gemuk yang sudah tidak bernafas. Tanpa
ragu ia menembak, sepertinya ia
menginginkan untuk cepat selesai. Laki-laki itu melangkah kearah kapak yang
dari tadi sudah berada di dekat gergaji yang ia taruh. Lalu, ia berbicara.
“Baiklah ini, adalah
akhir dari permainan saya. See You Next Time, in
the event want to Kill Us Episode 2. Bye Ladies and Gantle men.”
Tayangan itu pun belum
mulai mencapai ending. Walau para detektive pun sudah berhamburan dari
bangkunya. Seorang wanita pun berteriak. “Apa yang akan ia lakukan di dekat
laki-laki gemuk itu.” Para detektive pun mulai menengok kearah layar yang belum
berwarna hitam. Laki-laki itu mengayunkan kapaknya dari kanan dan kiri. Lalu, laki-laki itu mengayunkan kapak nya kearah tenggorakan
sanderanya. “blesshhh”darah pun bermuncaratan seperti air mancur. Darah itu
keluar dari kepala yang laki-laki itu pengal. Darahnya pun mulai membanjiri
tubuh korban, dan ia memegang
tangannya kearah wajahnya yang tertutup topeng, dan
tertawa seperti iblis, layarnya pun mulai
menghitam. Suasana Ruang Rapat pun mulai kacau balau. Para detektive pun mulai
berkicau-kicau layaknya seperti gerombolan burung yang sedang bernyanyi
“Lihat itu, pembunuh
itu malah terlihat senang sekali. Pembunuh
yang sangat kejam.”
“Tidak mungkin, apa
yang ku lihat ini, tidak mungkin.”
“Kejam, dia
adalah psikopat. Ia penjahat sadis.”
“Inspektur
Yuna, mulai lah pencariannya.”
“Inspektur, cepatlah.
Pembunuh itu tidak akan berhenti sebelum kita menangkapnya.”
“Baiklah, tidak
ada pilihan lain. Divisi 1 sampai Divisi 5 pencarian dimulai.”ucap Inspektur Yuna.
Detektive
itu pun kembali ketempatnya masing-masing, mereka
berhamburan seperti domba-domba yang tidak ada yang menjaganya. Saat, Inspektur Yuna ingin pergi dari tempat itu. Tetapi, dirinya dikagetkan dengan anak buahnya sendiri. Detektive
San, masih melamun dengan
muka yang sangat ketakutan dan pucat. Inspektur Yuna menghampiri ia, dan berbicara.
“Apa yang kau Lakukan disini, Detektive San?”Tanya Inspektur Yuna
“Tidak ada. Aku hanya terkejut,
dan shock
saat melihat video itu. Ternyata ada manusia sekejam itu.”Jawab detektive San.
“Tentu, Manusia kejam seperti
itu terbentuk karena sesuatu.”sahut Inspektur Yuna
“Sesuatu, apa itu?”tanya Detektive
San.
“Entahlah.”Jawab Inspektur Yuna
“Entahlah, Maksudnya?”Tanya
Detektive San kembali.
“Mungkin seperti membalaskan dendam sesuatu, mencari
perhatian, sakit jiwa, atau memang saat kecilnya ia sering dipukuli dan disiksa
oleh orang tuanya.”Jawab Inspektur Yuna.
“Tujuannya hanya itu. Apakah tidak ada hal selain itu?”Tanya Detektive San.
“Entahlah. Mungkin kau bisa menanyakan langsung ke penjahatnya saat kita
menangkapnya.”Jawabnya.
1 jam berlalu, setelah video itu
ditayangkan.
Para detektive pun mulai menyelidiki, mereka dibantu oleh polisi bidang krimanal. Mereka mencari
dengan hal yang sangat kecil, seperti menyelidiki
ulang tayangan video itu. Para detektive itu pun menonton ulang video tersebut.
Saat pengulang, suasana ruang rapat itu
pun membungkam. Mereka menonton dengan hati-hati, dan
penuh ketelitian yang sangat tinggi. Mereka pun tidak menemukan kesalahan
didalam video tersebut, dilacak pun tidak
berguna karena tidak di ketahui lokasi tersebut. Mereka akhirnya menyadari
pesan yang diucapkan pembunuh tersebut, saat
mereka tidak memperdulikan video itu saat ditayangkan langsung. Pembunuh itu
mengucapkan kata-kata yang sangat nekat. Pembunuh tersebut memberikan alamat
tempat terjadinya pembunuhan.
“3 Blok dari tempat kalian yang pertama, 2
belokkan ke kiri, dan 1 belokkan ke kanan, lalu masuklah ketempat saya berada.” perkataan
tersebutlah yang memulai pencarian besar-besaran.
Beberapa
menit kemudian, suara ringtone handphone berbunyi. Ringtone handphone itu
membuat ruangan menjadi senyap dan sepi tak seorangpun yang mengaku saat
ditanyakan”dering Handphone siapa?”. Gerakan mereka mengikuti suara ringtone
handphone yang berbunyi dengan keras. Hingga mereka mendapatkan tempat suara
ringtone handphone itu, di bangku bagian belakang yang kosong membuat tempat
itu semakin mencurigakan. Saat mereka membuka handphone, mereka melihat nama
kontak yang menelponnya, yaitu”Jhon”.
“Halo.”tanya
inspektur Yuna dengan Loud speaker menyala.
“Ehmm..
makasih telah menjadi penontonku. Apa aku terlalu berlebihan membuat aksi
itu.”tanya suara yang mereka kenali.
“Siapa
ini?”Tanya inspektur Yuna sekali lagi.
“Apa kau
lupa dengan suara ini. Sayang sekali, padahal aku ingin sekali bermain dengan
kalian.”tanya suara pembunuh itu.
“Sialan
kau, dimana kau berada.”kesal inspektur Yuna kepada suara itu.
“wow,
cepat sekali kau mengingatnya. Kau ingin tau dimana aku, baiklah dengan senang
hati aku mengizinkan kau melacak sinyal ini.”tantang pembunuh itu.
“Tanpa kau
suruh, akan kami lakukan hal itu. Penjahat murahan.”kesal inspektur Yuna dengan
menyuruh ahli komputernya melacak keberadaan pembunuh itu.
“Tunggu
sebentar, jika seperti itu bukankah terlalu terburu-buru. Bukankah, akan lebih
baik aku memberikan suatu petunjuk yang jelas dimana aku melakukan pembuatan
film itu.” Sahut Pembunuh itu.
“Tidak ada
negosiasi dengan penjahat, mengerti kau. Dasar bajingan.”kesal inspektur Yuna
semakin memuncak.
“Benarkah,
jika itu mau kau, baiklah tidak ada negosiasi. Sayangnya, bukankah itu
membosankan untuk membuat sebuah pertunjukan yang indah mengalahkan keindahan
malam dan siang hari. Akan aku tanyakan lagi, apa kau yakin dengan keputusan
itu.”tanya pembunuh itu dengan suara yang sedikit menantang.
Inspektur Yuna memikirkan kembali apa yang dikatakan pembunuh itu.
Setelah 15 menit, ahli computer Yuna sudah menemukan pembunuh itu dengan
melacak sinyal handphone itu. Dengan sedikit waktu, inspektur Yuna
memerintahkan seluruh detective pusat dan polisi setempat melakukan razia di
jalan tol Cempaka Putih.
“Baiklah,
apa yang ingin kau katakan.”Sahut inspektur Yuna yang mencoba mengulur-ulurkan
waktu.
“Lama
sekali kau menjawab, bukankah itu sangat mencurigakan. Aku mengetahui
rencanamu, terima kasih atas rencanamu. Itu adalah hal yang terbaik, kau coba
mengulurkan waktu. Baiklah, aku temani itu. Hal ini membuat diriku
bahagia.”sahut pembunuh itu dengan suara yang berseri-seri
“Kau tau
itu. Dalam waktu 25 menit kau akan tertangkap. Cepat katakan apa yang ingin kau
katakan. Atau kau ingin membantuku selama 25 menit untuk mengulur-ulurkan waktu
dengan cara terus bercakap-cakap denganku.”tanya inspektur Yuna.
“Sepertinya
menyenangkan aku memilih bagian kedua. Hal itu menyenangkan bukan.”jawab
pembunuh itu.
“buhahahaha.
Memang hal itu menyenangkan. Cepatlah tertawa karena hari ini adalah hari
terakhir kau tertawa. Bergembiralah, menangislah, apapun itu lakukan karena 20
menit kedepan adalah hari terakhir kau hidup melihat matahari.”kesal Inspektur
Yuna.
“Yakin
sekali kau dengan hal itu. Aku tak bisa di tangkap, karena aku adalah angin
yang tak terlihat, karena aku adalah awan yang dapat melarikan diri dari maut
serta dapat membelah-belahkan diriku ke berbagai tempat di penjuru negeri,
karena aku adalah bayangan yang tak terlihat tanpa cahaya. Jika kau dapat
menangkapku, silahkan bunuh aku dengan senang hati.”sahut pembunuh itu.
“Angin,
Awan, Bayangan itu adalah omong kosong seorang yang takut akan kematian. Tanpa
kau suruh aku akan membunuhmu dengan suka rela.”sahut inspektur Yuna.
“Bagaimana
kita buat kesepakatan, jika kau menangkapku aku akan menuruti kata-katamu, tapi
jika aku tidak tertangkap saat permainan ini usai nyawamulah yang akan menjadi
taruhannya. Bagaimana bukankah itu menguntungkanmu.”sahut pembunuh itu.
“Permainan
selesai, kapan itu selesai?”tanya Inspektur Yuna.
“Saat
kelima pendosa sudah musnah dihadapan sang tuhan. Bagaimana dengan kesepakatan
itu.”jawab pembunuh itu.
“Baiklah.”inspektur
Yuna mengiyakan kesepakatan itu.
“Bagaimana
dengan kita menambahkan peraturan yang tersedia.”tanya pembunuh itu.
“Apa yang
ingin kau tambahkan.”jawab inspektur Yuna.
“siapapun
yang menghalangi diriku memburu ketiga pendosa itu akan mati.”
“Ada apa
dengan tambahan itu. Hal itu adalah seharusnya bukan. Aku dan timku akan
menghalangkan pembunuhan kamu. Jika menurut kau, kami pengganggu bukankah hal
itu yang seharusnya kami terima.”sahut inspektur Yuna.
“Aku
anggap itu dengan jawaban iya.” Jelas pembunuh itu.
Mereka saling mengulur-ulurkan waktu, hingga akhirnya 25 menit akan
terselesaikan dengan hitungan mundur.
“bukankah
ini adalah hal terakhir. Ada kata terakhir yang ingin kau ucapkan?”tanya
inspektur Yuna.
“…”
“kau diam
berarti iya, berdoalah agar kau tak tertangkap. Aku akan menghitung mundur dari
5, 4, 3, 2, 1. Buahahaha musnahlah kau.”
Dalam
sekejap percakapan itu berhenti hingga akhirnya pembunuh itu tertawa.
“Buahahahaha,
kau membuat diriku gembira dan membuat air mata ini menjadi sebuah tangisan
kebahagian. Bukankah ini, keinginanmu.”tertawa pembunuh itu.
Inspektur yuna kebingungan dengan apa yang terjadi. Ia pikir bahwa pembunuh
seharusnya sudah tertangkap tetapi kenapa ia tertawa.
“Inspektur,
Pembunuh itu tidak ada.”sahut seorang ahli computer.
“tidak
ada, coba kau lacak sinyal ini lagi.”perintah inspektur Yuna.
“Inspektur,
sinyal ini berada di berbagai tempat di penjuru negeri. Pembunuh itu memainkan
kita dengan itu.”
“kau,
bukankah jika kau kabur akan membosankan.”tanya inspektur Yuna kepada pembunuh
itu.
“melarikan
diri, aku masih berada di tempat kontainer itu.”jawab pembunuh itu.
“apa?”
“Bukankah
sudahku bilang bahwa aku adalah angin yang tak terlihat, aku adalah awan yang
dapat membelah-belahkan diri, dan aku adalah bayangan yang tak terlihat tanpa
cahaya.”Tawa pembunuh itu makin memuncak.
“Kau, akan
aku tangkap saat memburu targetmu.”
“coba saja
kalau kau bisa. Aku akan memberi jawaban tempat pertama kalian melakukan
penangkapan di tempat pembunuhanku. Grand Resindent gedung utama bagian barat
bukankah itu tempat pertama kali kalian melakukannya.”
Saat itu
semua keadaan di Kantor Pusat menjadi riuh, mereka tak tenang dengan kehadiran
pembunuh keji itu. Mereka mengungkapkan opini mereka saat rapat yang saat itu
memang sudah kacau.
“Inspektur,
bagaimana kita menangkap dirinya?”
“Inspektur,
kita sudah dipermainkan olehnya. Jadi apa yang akan kita lakukan untuk membalas
budi dirinya.”
Inspektur
Yuna terdiam memikirkan rencana untuk penangkapan penjahat nasional. Hingga
akhirnya ia menemukan solusinya.
“Baiklah.
Ku harap kalian tenang, jangan terlalu panik. Panik hanya membuat seolah kita
sudah menerima kekalahan ini.” Sahut inspektur Yuna kepada Jajaran anggota
Detektive pusat.
“Baiklah.
Kalian diam. Kita tanyakan apa inspektur Yuna memiliki ide yang membuat kita
menang.”
Suasana
pun mulai tenang, Inspektur Yuna melanjutkan pembicaraannya.
“aku akan
membuat Tim. Tim yang dari berbagai keahlian, saya tak bisa memilih sebab
memiliki resiko yang tinggi. Jadi saya ingin kalian bersuka rela untuk membantu
saya. Jika kalian ingin membantu, silakan mengangkat tangan kanan anda.” Ucap
inspektur Yuna.
Mereka
mengangkat tangan mereka dengan suka rela, tapi hanya ada 1 orang yang tak
mengangkat tangannya. Ia adalah Runa Hermawan, umurnya masih sangat muda, ia
adalah seorang ahli computer dan Hacker muda. Runa mengatakan sesuatu yang
membuat tangan-tangan mereka menurunkan kembali.
“Kenapa
tidak inspektur saja yang memilih, oh iya tadi inspektur mengatakan resiko yang
tinggi. Resiko yang tinggi itu adalah mati, bukan. Saya tadi mendengar apa yang
bapak sepakati dengan pembunuh itu. Apakah kalian yang mengangkat tangan sudah
siap untuk mati.” Tanya Runa.
“apakah
itu benar Inspektur Yuna.”
“Benar.
Resikonya hanya itu, saya tak bisa memilih karena saya tak berhak mengambil
kehidupan kalian.” Ucapnya membenarkan pertanyaan Runa.
“Baiklah
saya akan ikut Tim itu.” Sahut Runa dengan bangun dari tempat duduknya.
“Nama saya
Runa Hermawan, saya akan siap untuk mati dengan tugas ini. Alasan saya ikut
adalah saya akan menangkapnya dan membuat dirinya terbunuh karena dia sudah
memainkan diriku. Aku akan ikut dengan HARGA DIRI Sebagai SEORANG HACKER yang
telah dimainkan.” Ucap Runa dengan nada terakhirnya sedikit kesal.
Sesaat
ruangan itu sunyi, mereka yang tak berani mengambil resiko itu. Mereka hanya
terdiam. Seorang perempuan yang mengangkat tangannya dan berdiri memperkenalkan
dirinya.
“Angelica
Lala, alasan saya ikut adalah untuk menangkap pembunuh ini. Aku tak akan
membiarkan seseorang kehilangan hal berharga karena dirinya.” Ucap Ila sapaan
akrabnya.
“baiklah
dengan ini 2 orang yang masuk tim ini. Ada lagi yang ingin masuk, saya
membutuhkan 3 orang lagi untuk mengikuti misi ini.”sahut inspektur Yuna.
“saya”
sahut San.
“Santosa,
alasan saya ikut karena saya muak dengan pembunuh ini. Hanya itu.” Ucap San
“baiklah
sisa 2 orang lagi.”
“Sa.. ya..
Namaku Aluwiansyah Samudra. Alasan saya ikut karena saya membenci pembunuh
berantai.” Ucap Detektive Alu sapaan akrabnya.
“terima
kasih. Baiklah tinggal satu, siapa yang mau mendaftarkan diri kalian.”
Suasana
disana sangat sunyi, mereka tak berani mengambil resiko itu. Gubrak… seorang laki-laki
paruh baya membuka paksa pintu rapat yang sedang terkunci. Mereka melihat
laki-laki itu. Laki-laki itu berpakaian seperti opsir polisi.
“saya
ikut. Namaku Reza Alexi. Alasannya karena aku ingin menegakan hukum untuk
pembunuh. Sepertinya pembunuh itu yang membunuh kakakku dua hari yang lalu.”
Ucap Opsir Reza.
Keesokan
hari. Sekolah SMA Junior Jakarta.
San
mengingat kembali apa pesan korban yang di bunuh oleh pembunuh berantai. Ia
mengingat suatu nama yang korban itu sebutkan dengan tanpa suara “RAFAEL”.
Pesan yang di tinggalkan oleh pelakupun masih kurang jelas terlihat, selama
semalaman mereka mencoba mencari pesan yang pelaku tinggalkan kepada Inspektur
Yuna. Mereka sudah mengetahui tempat kejadian perkara, tapi mereka kurang yakin
akan hal itu. Kenapa? Karena ruangan itu bersih tanpa jejak darah atau bau
darah yang tertinggal setelah 10 jam lamanya, mayat korban pun tak terlihat.
Mereka sudah melakukan yang terbaik, hingga mereka mengeluarkan semua kemampuan
teknologi untuk mencari jejak-jejak yang pelaku tinggalkan. Mereka juga sudah
mencoba dengan sinar ultraviolet, bahkan alat tercanggih di dunia tidak bisa
melacak langkah-langkah pelaku.
San
termenung sangat lama, ia hanya memikirkan tentang,”siapa itu Rafael? Apakah
itu dia.” San mempunyai seorang teman yang bernama RAFAEL DOMINIC yang biasa di
panggil Rafa. Ia sangat dekat dengan San, ia juga salah satu Teman yang San
anggap sebagai kakak. Umur San dengan Umur Rafa sangat berbeda 2 tahun. Rafa
tidak naik kelas selama 2 tahun, Rafa dan San selalu berbagi masalah, semua
teman-temannya menanggap diri mereka adik dan kakak.
Bel masuk
pun berbunyi, pak Sudarsono masuk membawa seorang murid pindahan. Murid
pindahan itu sangat cantik dan manis, seketika siswa kelas 11 Ipa 3 termasuk
San menjadi jatuh hati kepadanya. Ia memperkenalkan namanya dengan suara yang
sangat indah, keindahan itulah yang membuat dirinya menjadi madona. San melihat
kearah Rafa, ia terkejut dengan ekspresi dirinya. Rafa ketakutan, wajahnya
menjadi pucat, keringat berjatuhan secara cepat, reaksinya pun tidak normal,
San tak mengerti kenapa ia bersifat seperti itu, karena ekspresi itu adalah
ekspresi pertama kali yang ia lihat. Murid pindahan itu memperkenalkan namanya.
“ Halo Namaku
Riana senang berkenalan dengan kalian.”
(To Be
Continued)
-------------0000000-----------