Rabu, 28 Oktober 2015


Bab 1: Want Kill You


Dari ruangan yang gelap ada seseorang wanita dengan rambut yang terurai sambil memegang pisau. Bibirnya terus bergemumam. Pisau yang dipegangnya berlumuran darah. Darah terus menetes dari ujung pisau itu. Dia hanya mengucapkan dan tersenyum.

“I WANT KILL YOU”ucap wanita itu dengan tersenyum iblisnya.

Didalam ruangan itu bukan hanya seorang wanita, disana ada seorang laki-laki paruh baya tergeletak dengan bermandikan darahnya sendiri.

“Riana, lepaskan aku. Aku tidak ingin mati.”rintih laki-laki itu sambil menahan sakit. Perutnya yang terus menerus mengeluarkan darah.

“Kau tidak ingin mati. Lalu, siapa yang harus ku bunuh?”ucap wanita itu dengan wajah innocent. Sontak membuat bibir laki-laki itu kaku.

“KAU INGIN AKU MEMBUNUH SIAPA, HAH.”bentak wanita itu semakin membuat laki-laki itu merasa takut.

“Bu..bu...nuh si..si...ssss...siapapun asalkan ja.....jangan diriku.”ucap laki-laki itu semakin ketakutan.

Laki-laki itu ingin melawan tapi apa daya dia tidak mempunyai kekuatan sama sekali. Wanita itu sudah menusuk dirinya sebanyak 2x di bagian perut laki-laki itu.

“Siapapun?”ucap wanita itu dengan senyum manisnya sambil mendekati laki-laki itu.

“JANGAN MENDEKAT”pinta laki-laki itu sambil berteriak dengan suara parau dan membuat wanita itu berhenti.

“Kau ingin aku mendekat?”ucap wanita itu dengan senyum iblisnya.

“KAU TIDAK MENDENGARNYA? JANGAN MENDEKAT!”bentak laki-laki itu sekuat mungkin dengan wajah yang semakin pucat dan berusaha menghindar kebelakang saat wanita itu mendekatinya.

“Buahahahahahahaaa! Kau ingin aku menjauh darimu?tawa wanita itu membuat laki-laki itu semakin takut dan lemah. “tanpa ku dekati... Kau ... Juga akan mati dengan saaaaannngaaatttt perlahan.”wanita itu semakin memperburuk suasana laki-laki itu dengan senyumnya yang terkenal manis itu.

Akhirnya, laki-laki itu menyerah untuk menghindar dari wanita itu. Laki-laki itu menangis dengan tersedu-sedu sambil memohon untuk melepaskannya dan tidak membunuhnya. Tapi itu hanya semakin membuat wanita itu semakin ingin mempermainkan laki-laki itu.

“Hahahaha kau lucu sekali. Kau sangat tampan ketika menangis. Kau ingin menangis lebih kencang supaya lebih terlihat tampan.”tanya wanita itu lagi dan membuat laki-laki itu semakin lama semakin lemah jika tidak segera dibawah kerumah sakit hidupnya akan menghilang.

“KAU... GILA”bentak laki-laki itu dengan menunjukkan senyum miringnya.

“Gila? Aku? Hah ,kau tau! Yang membuat ku gila adalah kau! Kau membuatku gila dengan membunuh anggota keluargaku. KAU TAU ITU?”bentak wanita itu dengan wajah yang sangat ingin menbunuh. Wanita itu meletakkan pisau tepat di leher laki-laki itu.

“Arrrrggggghhh... Kau ... Arrggghhh ... Gila ...”rintih laki-laki itu kesakitan.

Ternyata ujung pisau itu sudah masuk perlahan dileher laki-laki itu.

“Kau membunuh dengan rasa sesakit ini.”bisik wanita itu sambil memasukkan pisau itu dileher laki-laki itu.

“Arrrgggghhhh ... To .... To.... Lo .... Tolong lepaskan” dengan sekuat tenaga laki-laki itu mengeluarkan suaranya.

“Bukan aku yang membunuh keluargamu.”nafas laki-laki itu mulai terasa sesak. Airmata laki-laki itu berjatuhan dipipinya.

“Bukan kamu. Bukannya sudah jelas kau dan kelompokmulah yang membunuh seluruh keluargaku.”Wanita itu membentak laki-laki itu dengan keras tepat di telinga kanannya.

“Sumpah, bukan aku. Jhoni yang membunuh Dan adikmu.”ucap laki-laki itu dengan nafas yang tersengak-sengak.

“Jhoni.”ucap wanita itu.

“I .. Ya. Jik.. Aaaa kau ingin memanggil, J.. Ho ... Ni ...”suara laki-laki itu berhenti dan wanita itu semakin tertawa menyaksikan kematian seseorang.

Keesokan harinya.

Kantor detektive pusat.

“Hey, Detektive Muda. Kau dipanggil oleh Inspektur Yuna diruangannya.”ucap salah satu detektive kepada detektive muda.

“Oh, oke. Aku akan kesana segera.”sahut Detektive yang bertuliskan “Santosa“ di kaos yang dia kenakan.

Detektive Santosa atau yang dikenalkan dengan Detektive San pengingat TKP (Tempat Kejadian Perkara). Ia masih mencicipi bangku sekolah menengah atas, itulah kenapa banyak detektive memanggilnya Detektive Muda.

Detektive San, berjalan perlahan keruangan Inspektur yang sedang menunggunya. “Tok .. Tok .. Tok ..” Detektive San mengetuk Pintunya.

“Siapa?”sahut Inspektur Yuna.

“San, disini. Inspektur Yuna.”Ucap Detektive San.

“Silakan Masuk.”Inspektur Yuna, menyuruh San memasuki ruangannya.

Detektive San membuka pintu sangat perlahan seperti seorang yang sedang membobol pintu rumah.

“Kenapa Inspektur Yuna memanggilku kesini.”ucap detektive San.

“Lihat ini.”Inspektur Yuna mengambil sebuah map dan memberikannya pada detektive San untuk melihat isi didalamnya.

Detektive San kaget bukan main, saat ia membuka map itu terlihat orang yang sudah tak bernyawa didalam foto. Pembunuhan itu, setiap adegan pelakunya memfoto kejahatannya sendiri. Disalah satu belakang foto itu tertulis “Jln. Resindent utara Blok E Gedung Cuci Mobil.”. Lalu, ia menanyakan kepada Inspektur Yuna.

“Inikan ada alamatnya. Jadi kita sudah mengetahui Lokasi pembunuhannya dan letak korban yang sudah dibunuh ini.”sahut Detektive San.

“Menurutmu seperti itu. Tapi, aku sudah menyuruh Divisi 2 untuk kesana. Kau tau hasilnya seperti apa?”Tanya Inspektur Yuna

“Disana, pasti Lokasi pembunuhannya dan disana pasti ada mayat laki-laki ini.”Jawab Detektive San.

“Kau salah. Disana memang tempat perkaranya, Tapi.”Sahut Inspektur Yuna.

“Tapi, apa? Mayat laki-laki itu tidak ada disana.”ucap detektive San.

“Tepat, Disana hanya ada ini.”Inspektur Yuna menjulurkan sebuah amplop sedang kearah Detektive San. Detektive San mengambil lalu membuka isi amplop itu.

Saat dilihat isinya hanya sebuah Foto dan Tulisan didalam Foto itu.

“YOU THE NEXT, JHONI. I WANT KILL YOU”Tulisan itu ditulis dengan darah dari mayat laki-laki itu.

Saat suasana sudah mulai sepi, seseorang berteriak dan langsung membuka pintu ruangan Inspektur Yuna.

“Inspektur, Gawat.”sahut salah satu detektive dengan wajah pucat.

“Ada apa?”tanya Inspektur Yuna.

“Mohon ikut kami keruangan Rapat segera.”jawabnya dengan nada ketakutan.

Akhirnya mereka pergi keruangan rapat. Saat tiba disana, Inspektur terdiam sesaat. Di Ruangan itu tidak ada yang berani berbicara. Mungkin mereka terkejut dan heran saat seorang laki-laki gemuk yang sedang di ikat di kursi yang terlihat di layar. Kaki, tangan, dan lehernya di ikat ke kursi, tetapi mulutnya tidak dipakaikan penutup mulut. Kursi yang berbentuk seperti kursi untuk menyiksa orang ,laki-laki itu sedang di ikat disana. Disebelah laki-laki itu terdapat seseorang laki-laki kurus dan memakai topeng serta memegang pisau yang terdapat bercak-bercak darah dari laki-laki itu.

“Ehm, Ehm, Halo Para Detektive sekalian. Saya akan menampilkan suatu pertunjukkan yang sangat indah untuk kalian saksikan. Baiklah, saya akan mulai pertunjukkan yang indah ini. Tunggu dulu, mungkin saya akan menjelaskan sedikit tentang laki-laki ini. Dia bernama Raju Jhoniansyah, biasa dipanggil JHONI. Oh iya, bukannya saya sudah menunjukkan suatu yang hebat kemarin. Sepertinya kalian belum melihat isinya, padahal saya sudah memberikan langsung ke INSPEKTUR YUNA YUDISTIRA. Sepertinya hal kemarin hanya dianggap bercanda saja. Satu lagi, laki-laki yang ada di foto itu bernama Andy Andrian biasa dipanggil An. Baiklah saya mulai pertunjukkannya, silakan para detektive menikmati pertunjukkan yang akan saya tampilkan.”suara laki-laki yang disamarkan.

Laki-laki itu mendekat dengan membawa gergaji mesin ditangannya. Laki-laki gemuk itu bergerak memberontak seperti tidak mau dibunuh. Kursi itu menahan setiap gerak Pria Gemuk itu. Mulutnya tidak sanggup berbicara karena ia sudah tidak mampu berbicara. Pria gemuk itu pasrah akan nasib nyawanya. Berjalan dengan diiringi orkestra, laki-laki itu mulai memotong jari tangan laki-laki gemuk itu. Laki-laki itu tersenyum dan tertawa saat ia berhasil memotong salah satu jari di tangan kirinya. Laki-laki itu semakin menikmati apa yang ia lakukan, dengan tertawa dan tersenyum yang hampir dipenuhi darah korban di sekitar tangan dan wajahnya. Baginya hal itu adalah hal yang menyenangkan. Dengan santainya ia memotong semua jari yang ada di tangan kiri dan tangan kanannya. Lalu, ia bergerak mendekati telinga laki-laki gemuk itu. Saat itu, detektive hanya diam terpaku di layar yang berisi adegan-adegan pembunuhan laki-laki gemuk itu. Banyak detektive yang mual melihat isi perut korban hampir dikeluarkan oleh laki-laki itu. Para detektive tidak tau apa yang ia berisikan kepada laki-laki gemuk itu. Setelah selesai ia menjauh dari laki-laki gemuk itu dan mengambil pistol revolver smith & Wesson Model 10. Ia mengeluarkan isi semua peluru dari kamar peluru. Lalu, ia memasukkan 2 peluru ke dalam kamar peluru. Kemudian, ia putar kamar peluru itu.

“Halo, para penonton sekalian. Apakah tadi pertunjukkan yang sangat hebat untuk ditunjukkan. Saya akan bertaruh, kalian tadi melihat saya memasukkan 2 peluru kedalam 2 dari 6 kamar peluru. Kita akan bermain game, taruhannya adalah nyawa. Saya akan menembak peluru kepada diri saya sendiri dan saya akan menembakkan peluru kepada dirinya. Itu adalah hal yang adil bukan para penonton sekalian. Jika seperti ini akan menjadi hal yang sangat luar biasa. Siapakah yang akan tertembak duluan, saya adalah sang pembunuh berantai dan Jhoni sang korban akan selamat, atau kebalikan dari hal tersebut. Silakan kita mulai permainan ini. Aduh, saya lupa mengatakannya di sudah 4 kali saya tembak ditempat yang sama, kalian bisa melihatnya kan. Baiklah, tanpa basa-basi saya akan mulai. Pertama, saya akan meletakkan pistolnya ke kepala saya sendiri.”

Laki-laki itu mulai menghitung dengan hitungan mundur. “5 ,4 ,3 ,2 ,1”. Laki-laki itu menarik pelatuk dari pistol revolver. “Treng”

“Wow, saya sangat beruntung hari ini.”ucapnya dengan tawa yang sangat mengerikan.

“Oke, saya akan mulai.” laki-laki itu menempelkan pistolnya keleher sanderanya. Dengan senyuman dan tawa, ia menarik pelatuk itu. “Door”. Pistol itu menembakkan isinya tepat kearah leher laki-laki gemuk. Para detektive yang menyasikannya pun tak kuat melihat laki-laki itu saat tertembak tepat mengenai lehernya.

“Wow, 1 dari 2 peluru sudah keluar, anda sangat kurang beruntung Jhoni. Baiklah kita mulai ronde kedua.”

Seperti sebelumnya, ia menempelkan pistol yang sudah ia tembak kearah kepalanya. Tanpa basa-basi, ia menarik pelatuknya dengan senyum yang sangat lebar, senyumannya sekilas terlihat manis. “Treng”

“Lagi-lagi saya sangat beruntung. Baiklah sisa 1 dari 3 kamar peluru yang tersisa.”

Laki-laki itu mengulangi apa yang ia perbuat. Ia taruh ujung pistol kearah leher sanderanya yang sudah ia tembak. Dengan iringan musik orkestra dan suara piano kematian, ia mulai menarik pelatuk itu perlahan. Perlahan-lahan ia tarik, membuat suasana diruangan rapat menjadi gelisah. Para detektive tidak bisa berbuat apa-apa, Inspektur Yuna sudah menyuruh melacak siaran langsungnya, tetapi ia tidak mendapatkan apapun kecuali adalah alamat palsu yang sudah laki-laki itu rencanakan. Laki-laki itu akhirnya menarik pelatuknya “Treng”

“Oh, tidak. Harusnya peluru kedua sudah keluar. Tak apalah, itu lebih baik dan lebih menantang. Tersisa 2 kamar peluru, 1 tembakan kearah saya adalah penentuannya. Akankah saya yang menanggung akibat permainan ini atau dirinya. Baiklah, saya mulai. Saya berharap anda mendoakan yang terbaik untuk saya, para detektive sekalian.”

Laki-laki itu menikmati permainan itu, walau dirinya sedang melanda kematian, tetapi wajahnya tidak menunjukkan ke khawatiran sedikitpun dengan senyum dan tawa ia mulai menarik pelatuk dengan sangat perlahan, sepertinya ia menikmati suasana yang tegang itu. Sangat perlahan ia menarik pelatuk itu hingga membuat suasana di ruangan rapat menjadi cemas akan hasilnya. Para detektive itu mulai berharap agar 1 peluru itu mengenai laki-laki itu, mereka semua berharap hal yang sama. Ia menarik pelatuk itu dan mengucapkan sesuatu kepada para detektive itu.

“3 Blok dari tempat kalian yang pertama, 2 belokkan ke kiri, dan 1 belokkan ke kanan, lalu masuklah ketempat saya berada.”

Setelah mengucapkan hal itu, laki-laki itu menarik pelatuknya dan “Treng”pelurunya pun tidak keluar dari pistol itu. Suasana pun mulai tak terkendalikan lagi. Di ruangan rapat pun mulai kacau balau. “Tidak mungkin” itu teriakan para detektive. Para detektive pun mulai berhamburan keluar pintu ruangan rapat. Saat mereka ingin membuka pintunya, laki-laki itu pun mengucapkan.

“Jika kalian pergi dari tempat duduk kalian, kalian akan melewatkan hal yang sangat saya ingin tunjukkan. Jika kalian ingin melewatkannya, kalian akan merasakan hal serupa seperti dirinya. Jadi silakan saksikan hingga acara ini selesai.”suara dan wajah yang dibalik topeng itu pun mulai sedikit mencuat, mereka melihat mata laki-laki itu penuh amarah dan dendam.

“Bercanda. Kalian akan menyaksikan penutupannya bukan.”mata yang menunjukkan dendam dan amarahnya pun hilang di wajah dibalik topeng laki-laki itu. Dengan senyumannya ia menunjukkan hal yang sangat ingin ia pertunjukkan kepada penonton.

Para detektive mulai tenang saat laki-laki itu mengucapkan hal itu, mereka kembali kebangkunya masing-masing.

“Pembunuh itu psikopat, korbannya sudah mati masih saja dilanjutkan. Tak punya rasa kemanusiaan.”sahut salah satu detektive.

Laki-laki itu menoleh kearah laki-laki gemuk itu.

“Sepertinya, sandera saya sudah menghembuskan nafas terakhirnya. Permainannya pun mulai menjadi tidak seru.”wajah sedihnya pun terlihat dimata laki-laki itu.

“Baiklah, Game is Game. Akan saya lanjutkan untuk memenuhi harapan penonton sekalian. Walaupun permainannya membosankan.”ucap laki-laki itu melangsungkan permainan yang ia buat sendiri. Laki-laki itu berjalan kearah leher yang ia tembak pertama kali, perlahan ia mengangkat tangan kanannya dan meletakkan pistol itu tepat kearah leher laki-laki gemuk yang sudah tidak bernafas. Tanpa ragu ia menembak, sepertinya ia menginginkan untuk cepat selesai. Laki-laki itu melangkah kearah kapak yang dari tadi sudah berada di dekat gergaji yang ia taruh. Lalu, ia berbicara.

“Baiklah ini, adalah akhir dari permainan saya. See You Next Time, in the event want to Kill Us Episode 2. Bye Ladies and Gantle men.”

Tayangan itu pun belum mulai mencapai ending. Walau para detektive pun sudah berhamburan dari bangkunya. Seorang wanita pun berteriak. “Apa yang akan ia lakukan di dekat laki-laki gemuk itu.” Para detektive pun mulai menengok kearah layar yang belum berwarna hitam. Laki-laki itu mengayunkan kapaknya dari kanan dan kiri. Lalu, laki-laki itu mengayunkan kapak nya kearah tenggorakan sanderanya. “blesshhh”darah pun bermuncaratan seperti air mancur. Darah itu keluar dari kepala yang laki-laki itu pengal. Darahnya pun mulai membanjiri tubuh korban, dan ia memegang tangannya kearah wajahnya yang tertutup topeng, dan tertawa seperti iblis, layarnya pun mulai menghitam. Suasana Ruang Rapat pun mulai kacau balau. Para detektive pun mulai berkicau-kicau layaknya seperti gerombolan burung yang sedang bernyanyi

“Lihat itu, pembunuh itu malah terlihat senang sekali. Pembunuh yang sangat kejam.”

“Tidak mungkin, apa yang ku lihat ini, tidak mungkin.”

“Kejam, dia adalah psikopat. Ia penjahat sadis.”

Inspektur Yuna, mulai lah pencariannya.”

“Inspektur, cepatlah. Pembunuh itu tidak akan berhenti sebelum kita menangkapnya.”

“Baiklah, tidak ada pilihan lain. Divisi 1 sampai Divisi 5 pencarian dimulai.”ucap Inspektur Yuna.

Detektive itu pun kembali ketempatnya masing-masing, mereka berhamburan seperti domba-domba yang tidak ada yang menjaganya. Saat, Inspektur Yuna ingin pergi dari tempat itu. Tetapi, dirinya dikagetkan dengan anak buahnya sendiri. Detektive San, masih melamun dengan muka yang sangat ketakutan dan pucat. Inspektur Yuna menghampiri ia, dan berbicara.

“Apa yang kau Lakukan disini, Detektive San?”Tanya Inspektur Yuna

“Tidak ada. Aku hanya terkejut, dan shock saat melihat video itu. Ternyata ada manusia sekejam itu.”Jawab detektive San.

“Tentu, Manusia kejam seperti itu terbentuk karena sesuatu.”sahut Inspektur Yuna

“Sesuatu, apa itu?”tanya Detektive San.

“Entahlah.”Jawab Inspektur Yuna

“Entahlah, Maksudnya?”Tanya Detektive San kembali.

“Mungkin seperti membalaskan dendam sesuatu, mencari perhatian, sakit jiwa, atau memang saat kecilnya ia sering dipukuli dan disiksa oleh orang tuanya.”Jawab Inspektur Yuna.

“Tujuannya hanya itu. Apakah tidak ada hal selain itu?”Tanya Detektive San.

“Entahlah. Mungkin kau bisa menanyakan langsung ke penjahatnya saat kita menangkapnya.”Jawabnya.

1 jam berlalu, setelah video itu ditayangkan.

Para detektive pun mulai menyelidiki, mereka dibantu oleh polisi bidang krimanal. Mereka mencari dengan hal yang sangat kecil, seperti menyelidiki ulang tayangan video itu. Para detektive itu pun menonton ulang video tersebut. Saat pengulang, suasana ruang rapat itu pun membungkam. Mereka menonton dengan hati-hati, dan penuh ketelitian yang sangat tinggi. Mereka pun tidak menemukan kesalahan didalam video tersebut, dilacak pun tidak berguna karena tidak di ketahui lokasi tersebut. Mereka akhirnya menyadari pesan yang diucapkan pembunuh tersebut, saat mereka tidak memperdulikan video itu saat ditayangkan langsung. Pembunuh itu mengucapkan kata-kata yang sangat nekat. Pembunuh tersebut memberikan alamat tempat terjadinya pembunuhan.

“3 Blok dari tempat kalian yang pertama, 2 belokkan ke kiri, dan 1 belokkan ke kanan, lalu masuklah ketempat saya berada.” perkataan tersebutlah yang memulai pencarian besar-besaran.

Beberapa menit kemudian, suara ringtone handphone berbunyi. Ringtone handphone itu membuat ruangan menjadi senyap dan sepi tak seorangpun yang mengaku saat ditanyakan”dering Handphone siapa?”. Gerakan mereka mengikuti suara ringtone handphone yang berbunyi dengan keras. Hingga mereka mendapatkan tempat suara ringtone handphone itu, di bangku bagian belakang yang kosong membuat tempat itu semakin mencurigakan. Saat mereka membuka handphone, mereka melihat nama kontak yang menelponnya, yaitu”Jhon”.

“Halo.”tanya inspektur Yuna dengan Loud speaker menyala.

“Ehmm.. makasih telah menjadi penontonku. Apa aku terlalu berlebihan membuat aksi itu.”tanya suara yang mereka kenali.

“Siapa ini?”Tanya inspektur Yuna sekali lagi.

“Apa kau lupa dengan suara ini. Sayang sekali, padahal aku ingin sekali bermain dengan kalian.”tanya suara pembunuh itu.

“Sialan kau, dimana kau berada.”kesal inspektur Yuna kepada suara itu.

“wow, cepat sekali kau mengingatnya. Kau ingin tau dimana aku, baiklah dengan senang hati aku mengizinkan kau melacak sinyal ini.”tantang pembunuh itu.

“Tanpa kau suruh, akan kami lakukan hal itu. Penjahat murahan.”kesal inspektur Yuna dengan menyuruh ahli komputernya melacak keberadaan pembunuh itu.

“Tunggu sebentar, jika seperti itu bukankah terlalu terburu-buru. Bukankah, akan lebih baik aku memberikan suatu petunjuk yang jelas dimana aku melakukan pembuatan film itu.” Sahut Pembunuh itu.

“Tidak ada negosiasi dengan penjahat, mengerti kau. Dasar bajingan.”kesal inspektur Yuna semakin memuncak.

“Benarkah, jika itu mau kau, baiklah tidak ada negosiasi. Sayangnya, bukankah itu membosankan untuk membuat sebuah pertunjukan yang indah mengalahkan keindahan malam dan siang hari. Akan aku tanyakan lagi, apa kau yakin dengan keputusan itu.”tanya pembunuh itu dengan suara yang sedikit menantang.

Inspektur Yuna memikirkan kembali apa yang dikatakan pembunuh itu. Setelah 15 menit, ahli computer Yuna sudah menemukan pembunuh itu dengan melacak sinyal handphone itu. Dengan sedikit waktu, inspektur Yuna memerintahkan seluruh detective pusat dan polisi setempat melakukan razia di jalan tol Cempaka Putih.

“Baiklah, apa yang ingin kau katakan.”Sahut inspektur Yuna yang mencoba mengulur-ulurkan waktu.

“Lama sekali kau menjawab, bukankah itu sangat mencurigakan. Aku mengetahui rencanamu, terima kasih atas rencanamu. Itu adalah hal yang terbaik, kau coba mengulurkan waktu. Baiklah, aku temani itu. Hal ini membuat diriku bahagia.”sahut pembunuh itu dengan suara yang berseri-seri

“Kau tau itu. Dalam waktu 25 menit kau akan tertangkap. Cepat katakan apa yang ingin kau katakan. Atau kau ingin membantuku selama 25 menit untuk mengulur-ulurkan waktu dengan cara terus bercakap-cakap denganku.”tanya inspektur Yuna.

“Sepertinya menyenangkan aku memilih bagian kedua. Hal itu menyenangkan bukan.”jawab pembunuh itu.

“buhahahaha. Memang hal itu menyenangkan. Cepatlah tertawa karena hari ini adalah hari terakhir kau tertawa. Bergembiralah, menangislah, apapun itu lakukan karena 20 menit kedepan adalah hari terakhir kau hidup melihat matahari.”kesal Inspektur Yuna.

“Yakin sekali kau dengan hal itu. Aku tak bisa di tangkap, karena aku adalah angin yang tak terlihat, karena aku adalah awan yang dapat melarikan diri dari maut serta dapat membelah-belahkan diriku ke berbagai tempat di penjuru negeri, karena aku adalah bayangan yang tak terlihat tanpa cahaya. Jika kau dapat menangkapku, silahkan bunuh aku dengan senang hati.”sahut pembunuh itu.

“Angin, Awan, Bayangan itu adalah omong kosong seorang yang takut akan kematian. Tanpa kau suruh aku akan membunuhmu dengan suka rela.”sahut inspektur Yuna.

“Bagaimana kita buat kesepakatan, jika kau menangkapku aku akan menuruti kata-katamu, tapi jika aku tidak tertangkap saat permainan ini usai nyawamulah yang akan menjadi taruhannya. Bagaimana bukankah itu menguntungkanmu.”sahut pembunuh itu.

“Permainan selesai, kapan itu selesai?”tanya Inspektur Yuna.

“Saat kelima pendosa sudah musnah dihadapan sang tuhan. Bagaimana dengan kesepakatan itu.”jawab pembunuh itu.

“Baiklah.”inspektur Yuna mengiyakan kesepakatan itu.

“Bagaimana dengan kita menambahkan peraturan yang tersedia.”tanya pembunuh itu.

“Apa yang ingin kau tambahkan.”jawab inspektur Yuna.

“siapapun yang menghalangi diriku memburu ketiga pendosa itu akan mati.”

“Ada apa dengan tambahan itu. Hal itu adalah seharusnya bukan. Aku dan timku akan menghalangkan pembunuhan kamu. Jika menurut kau, kami pengganggu bukankah hal itu yang seharusnya kami terima.”sahut inspektur Yuna.

“Aku anggap itu dengan jawaban iya.” Jelas pembunuh itu.

Mereka saling mengulur-ulurkan waktu, hingga akhirnya 25 menit akan terselesaikan dengan hitungan mundur.

“bukankah ini adalah hal terakhir. Ada kata terakhir yang ingin kau ucapkan?”tanya inspektur Yuna.

“…”

“kau diam berarti iya, berdoalah agar kau tak tertangkap. Aku akan menghitung mundur dari 5, 4, 3, 2, 1. Buahahaha musnahlah kau.”

Dalam sekejap percakapan itu berhenti hingga akhirnya pembunuh itu tertawa.

“Buahahahaha, kau membuat diriku gembira dan membuat air mata ini menjadi sebuah tangisan kebahagian. Bukankah ini, keinginanmu.”tertawa pembunuh itu.

Inspektur yuna kebingungan dengan apa yang terjadi. Ia pikir bahwa pembunuh seharusnya sudah tertangkap tetapi kenapa ia tertawa.

“Inspektur, Pembunuh itu tidak ada.”sahut seorang ahli computer.

“tidak ada, coba kau lacak sinyal ini lagi.”perintah inspektur Yuna.

“Inspektur, sinyal ini berada di berbagai tempat di penjuru negeri. Pembunuh itu memainkan kita dengan itu.”

“kau, bukankah jika kau kabur akan membosankan.”tanya inspektur Yuna kepada pembunuh itu.

“melarikan diri, aku masih berada di tempat kontainer itu.”jawab pembunuh itu.

“apa?”

“Bukankah sudahku bilang bahwa aku adalah angin yang tak terlihat, aku adalah awan yang dapat membelah-belahkan diri, dan aku adalah bayangan yang tak terlihat tanpa cahaya.”Tawa pembunuh itu makin memuncak.

“Kau, akan aku tangkap saat memburu targetmu.”

“coba saja kalau kau bisa. Aku akan memberi jawaban tempat pertama kalian melakukan penangkapan di tempat pembunuhanku. Grand Resindent gedung utama bagian barat bukankah itu tempat pertama kali kalian melakukannya.”

Saat itu semua keadaan di Kantor Pusat menjadi riuh, mereka tak tenang dengan kehadiran pembunuh keji itu. Mereka mengungkapkan opini mereka saat rapat yang saat itu memang sudah kacau.

“Inspektur, bagaimana kita menangkap dirinya?”

“Inspektur, kita sudah dipermainkan olehnya. Jadi apa yang akan kita lakukan untuk membalas budi dirinya.”

Inspektur Yuna terdiam memikirkan rencana untuk penangkapan penjahat nasional. Hingga akhirnya ia menemukan solusinya.

“Baiklah. Ku harap kalian tenang, jangan terlalu panik. Panik hanya membuat seolah kita sudah menerima kekalahan ini.” Sahut inspektur Yuna kepada Jajaran anggota Detektive pusat.

“Baiklah. Kalian diam. Kita tanyakan apa inspektur Yuna memiliki ide yang membuat kita menang.”

Suasana pun mulai tenang, Inspektur Yuna melanjutkan pembicaraannya.

“aku akan membuat Tim. Tim yang dari berbagai keahlian, saya tak bisa memilih sebab memiliki resiko yang tinggi. Jadi saya ingin kalian bersuka rela untuk membantu saya. Jika kalian ingin membantu, silakan mengangkat tangan kanan anda.” Ucap inspektur Yuna.

Mereka mengangkat tangan mereka dengan suka rela, tapi hanya ada 1 orang yang tak mengangkat tangannya. Ia adalah Runa Hermawan, umurnya masih sangat muda, ia adalah seorang ahli computer dan Hacker muda. Runa mengatakan sesuatu yang membuat tangan-tangan mereka menurunkan kembali.

“Kenapa tidak inspektur saja yang memilih, oh iya tadi inspektur mengatakan resiko yang tinggi. Resiko yang tinggi itu adalah mati, bukan. Saya tadi mendengar apa yang bapak sepakati dengan pembunuh itu. Apakah kalian yang mengangkat tangan sudah siap untuk mati.” Tanya Runa.

“apakah itu benar Inspektur Yuna.”

“Benar. Resikonya hanya itu, saya tak bisa memilih karena saya tak berhak mengambil kehidupan kalian.” Ucapnya membenarkan pertanyaan Runa.

“Baiklah saya akan ikut Tim itu.” Sahut Runa dengan bangun dari tempat duduknya.

“Nama saya Runa Hermawan, saya akan siap untuk mati dengan tugas ini. Alasan saya ikut adalah saya akan menangkapnya dan membuat dirinya terbunuh karena dia sudah memainkan diriku. Aku akan ikut dengan HARGA DIRI Sebagai SEORANG HACKER yang telah dimainkan.” Ucap Runa dengan nada terakhirnya sedikit kesal.

Sesaat ruangan itu sunyi, mereka yang tak berani mengambil resiko itu. Mereka hanya terdiam. Seorang perempuan yang mengangkat tangannya dan berdiri memperkenalkan dirinya.

“Angelica Lala, alasan saya ikut adalah untuk menangkap pembunuh ini. Aku tak akan membiarkan seseorang kehilangan hal berharga karena dirinya.” Ucap Ila sapaan akrabnya.

“baiklah dengan ini 2 orang yang masuk tim ini. Ada lagi yang ingin masuk, saya membutuhkan 3 orang lagi untuk mengikuti misi ini.”sahut inspektur Yuna.

“saya” sahut San.

“Santosa, alasan saya ikut karena saya muak dengan pembunuh ini. Hanya itu.” Ucap San

“baiklah sisa 2 orang lagi.”

“Sa.. ya.. Namaku Aluwiansyah Samudra. Alasan saya ikut karena saya membenci pembunuh berantai.” Ucap Detektive Alu sapaan akrabnya.

“terima kasih. Baiklah tinggal satu, siapa yang mau mendaftarkan diri kalian.”

Suasana disana sangat sunyi, mereka tak berani mengambil resiko itu. Gubrak… seorang laki-laki paruh baya membuka paksa pintu rapat yang sedang terkunci. Mereka melihat laki-laki itu. Laki-laki itu berpakaian seperti opsir polisi.

“saya ikut. Namaku Reza Alexi. Alasannya karena aku ingin menegakan hukum untuk pembunuh. Sepertinya pembunuh itu yang membunuh kakakku dua hari yang lalu.” Ucap Opsir Reza.

Keesokan hari. Sekolah SMA Junior Jakarta.

San mengingat kembali apa pesan korban yang di bunuh oleh pembunuh berantai. Ia mengingat suatu nama yang korban itu sebutkan dengan tanpa suara “RAFAEL”. Pesan yang di tinggalkan oleh pelakupun masih kurang jelas terlihat, selama semalaman mereka mencoba mencari pesan yang pelaku tinggalkan kepada Inspektur Yuna. Mereka sudah mengetahui tempat kejadian perkara, tapi mereka kurang yakin akan hal itu. Kenapa? Karena ruangan itu bersih tanpa jejak darah atau bau darah yang tertinggal setelah 10 jam lamanya, mayat korban pun tak terlihat. Mereka sudah melakukan yang terbaik, hingga mereka mengeluarkan semua kemampuan teknologi untuk mencari jejak-jejak yang pelaku tinggalkan. Mereka juga sudah mencoba dengan sinar ultraviolet, bahkan alat tercanggih di dunia tidak bisa melacak langkah-langkah pelaku.

San termenung sangat lama, ia hanya memikirkan tentang,”siapa itu Rafael? Apakah itu dia.” San mempunyai seorang teman yang bernama RAFAEL DOMINIC yang biasa di panggil Rafa. Ia sangat dekat dengan San, ia juga salah satu Teman yang San anggap sebagai kakak. Umur San dengan Umur Rafa sangat berbeda 2 tahun. Rafa tidak naik kelas selama 2 tahun, Rafa dan San selalu berbagi masalah, semua teman-temannya menanggap diri mereka adik dan kakak.

Bel masuk pun berbunyi, pak Sudarsono masuk membawa seorang murid pindahan. Murid pindahan itu sangat cantik dan manis, seketika siswa kelas 11 Ipa 3 termasuk San menjadi jatuh hati kepadanya. Ia memperkenalkan namanya dengan suara yang sangat indah, keindahan itulah yang membuat dirinya menjadi madona. San melihat kearah Rafa, ia terkejut dengan ekspresi dirinya. Rafa ketakutan, wajahnya menjadi pucat, keringat berjatuhan secara cepat, reaksinya pun tidak normal, San tak mengerti kenapa ia bersifat seperti itu, karena ekspresi itu adalah ekspresi pertama kali yang ia lihat. Murid pindahan itu memperkenalkan namanya.

“ Halo Namaku Riana senang berkenalan dengan kalian.”

(To Be Continued)


-------------0000000-----------